• 082237***461
  • matematika@munharmath.my.id
  • MAN Karangasem

Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 5

Intinya, Yoshiteru Zaimokuza itu Agak Gila[sunting]

Mungkin agak telat mengatakan hal ini, tapi yang kutahu, Klub Layanan Sosial punya peran untuk mendengarkan masalah para murid dan berusaha membantu mereka.

Kalau aku tak sesekali mengingatkan diriku sendiri mengenai hal tersebut, aku bisa benar-benar lupa klub apa sebenarnya ini. Yang biasanya aku dan Yukinoshita lakukan hanyalah membaca buku saja. Sedangkan Yuigahama, masih saja bermain dengan ponsel-nya.

Hm… ah, untuk apa kau kemari lagi?

Perempuan itu begitu cepat membaur hingga kami tak pernah mempertanyakan keberadaannya, tapi itu tak serta-merta menjadikan Yuigahama sebagai anggota Klub Layanan Sosial. Sebenarnya, aku sendiri tak cukup yakin kalau aku juga anggota klub ini. Apa aku memang bagian dari klub ini, ya? Padahal aku ingin sekali keluar dari sini…

Eh? Ah, soalnya aku lagi punya banyak waktu senggang ‘gitu, lo.

 ‘gitu, lo? Aku tak paham yang kaukatakan. Lagi pula, apa-apaan itu? Memangnya kau ini orang Hiroshima, apa?

Eh? Hiroshima? Aku ini orang Chiba, kok.

Yah, pada kenyataannya, orang-orang yang memakai dialek Hiroshima selalu menambahkan ‘gitu, lo di setiap akhir ucapannya, namun ketika hal ini kubahas ke orang lain, mereka justru tampak terkejut. Aku punya gambaran buruk di otakku mengenai cara bicara orang-orang Hiroshima, tapi lain cerita kalau perempuan yang berbicara dengan logat seperti itu, mereka malah terdengar menggemaskan. Faktanya, logat Hiroshima ada di jajaran sepuluh besar logat yang kuanggap paling menggemaskan.

Huh. Hanya karena kau lahir di Chiba, bukan berarti bisa seenaknya saja mengaku kalau kau orang Chiba.

“Hei, Hikigaya. Aku sungguh tak mengerti apa maksudmu tadi…”

Yukinoshita menatapku dengan begitu sinis. Tapi aku tak menghiraukannya.

Baiklah, Yuigahama. Pertanyaan pertama. Apa nama serangga hitam yang akan menggelinding seperti bola jika kau menyentuhnya?

Kutu kayu!

Hmm… kau benar. Ternyata kau juga mengerti logat Chiba… baiklah, lanjut ke pertanyaan kedua. Jika kau boleh memilih makanan lain sebagai pendamping makan siangmu, kau akan memilih apa?

Miso kedelai!

Hmm… mungkin kau memang benar-benar orang Chiba…

Aku sudah bilang dari tadi ‘gitu, lo.

Yuigahama meletakkan tangannya di atas paha dan menatapku sambil memiringkan kepalanya, seakan ingin berkata, Anak ini kenapa, ya? Yukinoshita duduk di sebelahnya sambil menyandarkan sikunya sekaligus meletakkan tangannya ke dahi. Ia lalu mengela napas panjang.

…eng, kenapa tiba-tiba menanyakan itu? Memangnya kalau aku jawab, aku dapat poin, ya?

Jelas itu tak ada poinnya.

Anggap saja ini Ultra Quiz Lintas Prefektur Chiba. Yang kumaksud Lintas itu, mulai dari Matsudo hingga ke Choushi.[1]

Kalau hanya dari situ sampai ke situ saja, bukan Chiba namanya!

Kalau begitu, anggap saja dari Sawara ke Tateyama.[2]

Jadi kini diukurnya dari wilayah utara hingga ke selatan…

…dua anak ini… padahal awalnya dari nama kota saja, tapi kenapa malah dipersoalkan begini? Apa sebegitu sukanya mereka dengan Kota Chiba?

Baiklah, pertanyaan ketiga. Jika kau berpergian lewat Jalur Sotoubou menuju Toke, maka, apa nama dari hewan langka yang bisa tiba-tiba menampakkan dirinya di sekitar daerah itu?

Ah, Yukinon, bicara soal Matsudou, kudengar banyak kedai ramen di daerah sana, lo. Kapan-kapan ke sana, yuk?

Ramen… aku tak begitu sering memakan ramen, jadi aku kurang begitu tahu…

Enggak masalah, kok! Aku juga jarang makan ramen!

…eh? Lalu kenapa tadi kau menyarankannya? Tolong jelaskan dulu maksudmu itu?

Hmm, lagi pula, apa hubungannya dengan Matsudou…? Memang benar, di sana ada kedai bernama Nantoka. Kata orang, ramen yang dijual di sana rasanya enak…

Kalian ini dengar yang tadi kutanyakan, enggak, sih?

Hmm? Dengar, kok. Ah, tapi di sekitar sini juga ada beberapa kedai yang mantap, lo. Soalnya di sini itu dekat sama rumahku, makanya aku mengerti betul daerah ini. Rumahku jaraknya kira-kira lima menit dari sini. Aku juga sering melihat ada beberapa kedai sewaktu jalan-jalan sama anjingku.

…jawaban yang benar adalah burung unta. Kalau kita berpergian menggunakan kereta dan tiba-tiba melihat ada burung unta di luar jendela, kurasa kita akan lebih merasa terkesan ketimbang terkejut.

Cih.

Kubiarkan saja dua perempuan tersebut larut dalam obrolan ramen yang sudah salah kaprah tadi, dan kembali kubaca bukuku.

Padahal ada tiga orang di ruangan ini, tapi masih saja aku merasa sendiri. Apa-apaan itu?

Biarpun begitu, bagiku menghabiskan waktu seperti ini membuatku merasa seperti anak SMA pada umumnya. Dibandingkan anak-anak SMP, anak-anak SMA lebih punya kebebasan dalam melakukan sesuatu, hingga mereka cenderung tertarik dalam hal gaya maupun kuliner. Jadi obrolan soal ramen ini serasa seperti obrolan anak SMA banget.

…meski kuakui, pada umumnya anak-anak SMA tak melakukan hal semacam Ultra Quiz Lintas Prefektur Chiba.— II —


Keesokan harinya, ketika menuju ke ruang klub, aku terkejut melihat Yukinoshita dan Yuigahama sedang berdiri menghadap ke arah pintu. Aku jadi penasaran apa yang sedang mereka lakukan. Saat aku mengira-ngira alasannya, ternyata pintu itu sedikit terbuka dan mereka sedang mengintip ke dalam.

Kalian sedang apa?

Hyaaah!

Terdengarlah jeritan menggemaskan itu, dan di saat bersamaan dua perempuan tersebut melompat kaget.

Hikigaya… kau membuatku kaget…

Akulah yang harusnya kaget…

Reaksi macam apa itu? Itu mengingatkanku tentang hal yang bakal terjadi kalau aku menjumpai kucing peliharaanku di ruang tamu saat tengah malam.

Bisakah kau agar tidak tiba-tiba memanggil kami seperti itu?

Tatapan jengkel Yukinoshita yang ditujukan padaku itu pun kian mengingatkanku akan kucing peliharaanku. Kini aku jadi terpikir, kucing tersebut begitu ramah terhadap semua orang di keluargaku terkecuali aku. Itu juga salah satu hal dari diri Yukinoshita yang mengingatkanku pada hewan tersebut.

Iya, iya, maaf. Jadi, kalian ini sedang apa?

Yuigahama sekali lagi menggeser pintu ruangan klub dan diam-diam mengintip ke dalam. Ia orang yang menjawabku ketika kusodorkan pertanyaan tadi.

Di dalam ada orang yang mencurigakan.

Yang mencurigakan itu malah kalian berdua.

Cukup sampai di situ. Bisakah kau berbaik hati masuk ke dalam dan menanyakan siapa dirinya?

Yukinoshita menyuruhku dengan wajah tersinggung.

Kulakukan saja apa yang sudah diminta, berdiri di depan kedua gadis tersebut dan dengan hati-hati membuka pintu. Aku lalu melangkah masuk.

Yang menanti kami adalah hembusan angin.

Sewaktu aku membuka pintu, semilir angin melewati kami. Itu adalah ciri khas angin dari sekolah yang dibangun di daerah sekitar laut, dan angin tersebut membuat pusaran di sekeliling ruang klub, menghamburkan kertas-kertas.

Pemandangan itu mengingatkanku akan sebuah trik sulap di mana merpati-merpati putih keluar dari topi sang pesulap. Dan di tengah-tengah hal tersebut, berdirilah sosok seseorang.

Ku ku ku, sungguh tak disangka kita akan bertemu di tempat seperti ini. Telah lama aku menantimu, Hachiman Hikigaya.

Ka-kau ini bicara apa?!

Ia sudah menantikan diriku, dan ia masih saja tak menyangkanya…? Maksudnya itu apa, sih? Harusnya yang tak menyangka bakal ada kejadian begini itu aku.

Kupaksa berjalan melewati pusaran kertas-kertas agar bisa melihat jelas siapa lawan bicaraku.

Dan pada akhirnya, sosok tersebut ternyata… oh, tidak, lupakan saja. Aku tak punya urusan dengan Yoshiteru Zaimokuza.

Terserah, deh, aku memang tak punya urusan dengan kebanyakan orang di sekolah ini. Tapi di antara mereka, anak ini adalah orang yang benar-benar tak ada urusannya denganku. Maksudku, lihat saja dirinya. Padahal tak sedang di musim panas, tapi ia malah berkeringat karena memakai mantel dan sarung tangan fingerless-nya.

Meski mengenalnya, aku akan berpura-pura saja kalau tidak tahu.

Hikigaya, sepertinya anak yang di sana itu mengenalmu…

Yukinoshita sudah bersembunyi di belakangku, dan bolak-balik memandang curiga pada diriku serta anak yang di sana itu. Zaimokuza meringkuk sesaat di hadapan tatapan menyindir perempuan tersebut, tapi ia segera kembali mengarahkan pandangannya padaku, menyilangkan lengannya dan sekali lagi mulai tertawa dengan suara rendah.

Dengan gerakan yang dilebih-lebihkan, ia mulai mengangkat bahu dan perlahan menggelengkan kepalanya.

Sungguh kejam… kau sampai bisa melupakan rekan lamamu, Hachiman.

Barusan ia menyebutmu rekan lama

Yuigahama menatapku dingin. Tatapannya seakan ingin berkata, Mati saja kau sana, Sampah!

Itu sudah jelas, Rekan Lama. Kau masih mengingatnya, bukan? Bagaimana saat kita dengan gagah berani menghadapi masa-masa mengerikan itu bersama…

Orang-orang membuat kami berpasangan saat pelajaran Senam. Itu saja…

Aku sudah tak tahan lagi hingga melontarkan bantahan tersebut, yang membuat Zaimokuza sampai menyengir.

Hem… kejamnya sistem pilah-pilih tak lain hanyalah sebuah neraka. Mereka bilang kita boleh berpasangan dengan siapa pun sesuka kita. Ku ku ku, seolah aku punya hasrat untuk menjalani pertemanan dengan raga fana ini! …seolah aku pernah berniat mengalami perpisahan yang akan menyakiti raga tersebut! Jika itu adalah cinta, maka aku tak membutuhkannya!

Ia memandang jauh ke arah luar jendela. Pasti ada semacam bayangan seorang tuan putri yang jelita yang melayang-layang di langit kosong di sana. Atau mungkin saja semua orang sudah terlalu menggemari seri Hokuto no Ken.

Yah, karena sudah sejauh ini, kita mungkin bisa bilang kalau anak ini begitu menggebu-gebu. Kita mungkin bisa bilang kalau ia adalah salah satu dari orang-orang itu.

Kau mau apa, Zaimokuza?

Heng… rupanya kau sudah menyebut nama yang terukir di jiwaku ini. Betul sekali, akulah sang jenderal ahli pedang, Yoshiteru Zaimokuza.

Dengan mencolok ia kibarkan mantelnya, sambil memasang ekspresi heroik di wajah tambunnya sewaktu memandang balik ke arah kami. Tampaknya ia sudah terlalu menghayati peran jendral ahli pedang ciptaannya itu.

Hanya dengan melihatnya sudah membuat sakit kepalaku.

Atau bisa kubilang, hatikulah yang sebenarnya terasa sakit. Yang lebih penting lagi, tatapan yang datangnya dari Yukinoshita dan Yuigahama kepadaku ini justru terasa lebih menyakitkan.

Hei… sebenarnya yang tadi itu maksudnya apa?

Terlihat jelas kalau Yuigahama sedang merasa terganggu… atau bisa kubilang merasa jengkel… dan ia mengarahkan pandangannya ke arahku. Benar-benar, deh, maksudnya itu apa, sampai ia memandang ke arahku segala?

Nama anak ini Yoshiteru Zaimokuza… kami dulu pernah jadi rekan saat senam.

Sebenarnya, cuma sampai di situ saja, sih. Hubunganku dengan Zaimokuza tak pernah lebih dari itu… meski, tak sepenuhnya salah jika berkata, kalau kami pernah jadi rekan yang sama-sama tak dibolehkan menjalani hidup damai selama masa-masa mengerikan itu.

Rasanya memang seperti di neraka saat disuruh memilih siapa pasangan kita. Serius.

Zaimokuza juga merasakan perih yang sama dan ia pun mengerti betapa mengerikannya masa-masa itu.

Semenjak pertama kali mengikuti pelajaran Senam di mana Zaimokuza dan diriku berpasangan dikarenakan hanya kami saja yang tak dipilih, kami selalu bersama-sama. Sejujurnya, aku sangat ingin menjual pengidap chuunibyou tambun ini ke salah satu tim lain, tapi itu tak bisa kulakukan, jadi aku pun menyerah. Aku juga pernah menyatakan diriku ini sebagai agen lepas, namun sayang, jika ada orang yang mau menggunakan jasaku, orang tersebut takkan mampu menyewaku karena mahalnya upahku. Baiklah, kuakui kalau yang tadi itu bohong, alasan sebenarnya hanya karena aku dan Zaimokuza saja yang tak punya teman.

Selagi Yukinoshita memerhatikan penjelasanku, ia memandang bolak-balik ke arahku dan ke arah Zaimokuza. Setelahnya, ia pun terlihat puas seraya mengangguk.

Orang sejenis pasti saling berkumpul, ya ‘kan?

Tentu saja ia langsung memberi kesimpulan yang sangat kejam.

Dasar bodoh, jangan hubung-hubungkan aku dengannya. Aku tak sampai setersesat itu. Dan yang pasti, kami ini bukan teman, sialan.

Hmm… aku pun harus bilang setuju. Betul sekali, aku memang tak punya teman… aku memang sendirian. (hik)

Zaimokuza berbicara dengan nada tersedu yang dibuat-buat. Eh, tapi, ia sudah kembali lagi ke ekspresinya yang biasa.

Yah, kurasa itu bukan masalah. Lagi pula, kelihatannya ada sesuatu yang temanmu inginkan darimu.

Mendengar Yukinoshita berkata begitu hampir membuatku terharu. Semenjak SMP, tak pernah aku seterharu ini sewaktu mendengar kata teman…

Tak pernah aku seterharu ini semenjak Kaori mengatakannya sewaktu SMP… Aku memang senang denganmu dan kau juga orang yang baik, tapi kalau diajak pacaran, rasanya agak… kita berteman saja, ya? Aku benar-benar tak butuh teman yang seperti itu…

Muwahaha, aku jadi benar-benar lupa. Omong-omong, Hachiman. Ini Klub Layanan Sosial, bukan?

Zaimokuza telah kembali ke karakternya, tertawa aneh sambil menatapku.

Untuk apa sebenarnya ia tertawa tadi? Baru pertama kali kudengar hal yang seperti itu.

Ya, ini memang Klub Layanan Sosial.

Yukinoshita menjawabnya menggantikanku. Ketika ia melakukannya, pandangan Zaimokuza sesaat tertuju ke arahnya kemudian segera kembali ke arahku. Kenapa ia harus melihat ke arahku segala?

…be-begitukah? Jika saran dari Bu Hiratsuka ternyata benar, maka kau berkewajiban mengabulkan permintaanku, benar bukan? Jika mengingat kembali ratusan tahun yang kauabdikan sebagai pelayanku… pastinya ini perbuatan Sang Bodhisatwa Agung Hachiman.

Bukan berarti Klub Layanan Sosial bisa mengabulkan permintaanmu… kami hanya membantumu mewujudkannya.

…he-hem… kalau begitu, Hachiman, ulurkanlah tanganmu. Fu, fu, fu… kini aku merasa kalau kita setara. Kau merasakannya juga, bukan? Setara sama seperti ketika Kehendak Lampau ingin menaklukan segala yang bernaung di bawah langit!

Lalu apa yang terjadi pada malaikat pelayan tadi? Lagi pula, kenapa kau cuma melihat ke arahku?

Goram, goram! Hal sepele semacam itu tak begitu punya arti di hadapan kita! Aku akan membuat pengecualian untuk kasus ini.

Zaimokuza berdeham dengan cara yang sangat konyol, mungkin ia berusaha menutupi salah bicaranya. Lalu tentu saja, ia kembali menatap ke arahku.

Aku minta maaf. Jika dibandingkan masa lalu, tampaknya hati para pria telah dikotori di masa kini. Oh, betapa aku merindukan masa-masa suci sewaktu Era Muromachi… tidakkah kau ikut merasakannya, Hachiman?

Jelas tidak. Sudahlah, mati saja sana.

Ku, ku, ku… seolah kematian bisa membuatku takut. Itu hanya memberikanku sebuah dunia baru untuk kutaklukan!

Zaimokuza mengangkat tangannya ke atas, mantelnya berkibar dihembus angin.

Ia benar-benar menanggapi orang yang menyuruhnya mati…

Aku pun begitu… menurutku ketika kita sudah terbiasa dihina maupun dilecehkan, kita bakal punya sanggahan bagus untuk membalas hal tersebut. Keahlian yang rasanya begitu memilukan… sampai-sampai bisa membuatku menangis.

Uwaaah…

Yuigahama tampak benar-benar syok. Bahkan wajahnya agak terlihat pucat saat melihatku.

Hikigaya, bisa aku bicara denganmu sebentar…?

Setelah berkata begitu, Yukinoshita lalu menarik lenganku dan berbisik di telingaku.

Ada apa sebenarnya ini? Ada apa dengan si jenderal ahli pedang atau apalah namanya itu?

Wajah manis Yukinoshita begitu dekat dengan wajahku dan turut menyibakkan aroma yang mengenakkan, namun suara yang dibisikkannya tak sedikit pun mengandung rayuan.

Menghadapi itu, aku merasa jika satu kalimat saja sudah cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Itu chuunibyou. Cuma chuunibyou.

Chuu-ni-byou?

Yukinoshita memandangku sambil memiringkan kepalanya. Aku jadi memerhatikannya, tapi ketika para perempuan melafalkan kata chuu, bibir mereka terlihat begitu menggemaskan. Hal yang begitu langka dijumpai.

Yuigahama juga ikut mendengarkan perbincangan kami, dan ia pun bergabung di dalamnya.

Itu semacam penyakit, ya?

Sebenarnya itu bukan penyakit sungguhan. Yah, itu semacam pelesetan saja.

Intinya, chuunibyou mengacu pada rangkaian perilaku memalukan yang cenderung terlihat di kalangan anak SMP.

Bahkan di antara kalangan tersebut, Zaimokuza menjadi salah satu kasus chuunibyou yang terparah, hingga ia pantas menyandang gelar Sang Mata Iblis.

Orang-orang semacam ini berpikir bahwa mereka punya kemampuan maupun kekuatan aneh yang sama yang biasanya ada di berbagai mangaanime dan game. Mereka pun bertingkah seakan mereka memang memiliki kemampuan tersebut. Dan pastinya, karena hal yang demikian itu, mereka jadi mengarang bermacam cerita supaya kemampuan tersebut bisa diterima nalar. Itu sebabnya mereka sering berpura-pura menjadi reinkarnasi salah seorang kesatria legendaris, atau manusia pilihan dewa, ataupun agen rahasia. Dan mereka pun bertindak sesuai dengan latar belakang cerita yang diceritakannya tadi.

Kenapa mereka sampai berbuat seperti itu?

Karena hal tersebut tampak keren.

Terserah, deh, kurasa setiap orang yang pernah melalui masa SMP, setidaknya pernah sekali berpikir begitu di dalam hidupnya. Kurasa di satu titik, setiap orang pernah berdiri di hadapan cermin dan mengatakan hal semacam, Selamat malam para pemirsa setia countdown TV. Eng… kali ini kami punya lagu baru yang bercerita tentang cinta, dan saya sendiri yang menulis liriknya

Dengan kata lain, chuunibyou adalah contoh ekstrim dari hal tersebut.

Lewat ucapanku tadi, aku telah menjelaskan secara singkat apa itu chuunibyou, dan Yukinoshita kelihatan puas atas jawabanku. Sering sekali aku memikirkan hal ini, tapi aku selalu kagum akan betapa cepatnya perempuan ini berubah pikiran. Baru sebentar saja aku menjelaskan sebuah hal dan ia sudah sepuluh langkah di depanku, biarpun begitu, ia tak pernah membutuhkan penjelasan panjang kalau ia belum mengerti betul situasinya.

Aku enggak mengerti maksudnya…

Berbeda sekali dengan Yukinoshita, Yuigahama tampak tak begitu senang dan bergumam tak jelas. Kalau boleh jujur, aku juga bakal tak mengerti andai disuruh mendengarkan penjelasanku sendiri. Sebenarnya, Yukinoshita-lah yang aneh karena bisa mengerti hal semacam tadi.

Hmm… jadi itu seperti menggunakan latar belakang cerita rekaan kemudian bertingkah sesuai dengan hal tersebut, begitu?

Yah, semacam itulah. Dalam kasus anak ini, ia menggunakan sosok Yoshiteru Ashikaga, shogun ketiga belas dari ke-shogun-an Muromachi sebagai jati dirinya. Mungkin itu lebih mudah karena mereka punya nama yang sama.

Lalu kenapa ia menganggapmu sebagai rekannya?

Nama Hachiman itu mungkin diambil dari Bodhisatwa Agung Hachiman, di mana Seiwa Genji begitu taat memuja dirinya sebagai dewa perang. Kalian pasti pernah mendengar Kuil Tsurugaoka Hachiman, bukan?

Setelah aku menanggapinya, Yukinoshita langsung diam membisu. Apa ada yang salah? Aku memasang wajah bertanya-tanya di hadapannya, dan kulihat ia sudah menatap ke arahku dengan mata terbelalak.

Aku terkejut. Rupanya kau tahu banyak.

…yah, begitulah.

Kenangan tak menyenangkan mulai mencuat di pikiranku, jadi kupalingkan saja kepala ini. Lalu kuambil kesempatan tersebut untuk mengganti topik pembicaraan.

Memang menjengkelkan mendengar Zaimokuza mengoceh macam-macam soal sejarah, tapi setidaknya, ia menggunakan karakter yang ada di sejarah kehidupan nyata sebagai jati dirinya.

Mendengar itu, Yukinoshita sekilas menatap Zaimokuza lalu bertanya padaku dengan wajah yang tak mengenakkan.

…jadi maksudmu, masih ada lagi yang lebih parah dari itu?

Benar.

Hanya ingin tahu saja, contohnya seperti apa?

Pada mulanya, di dunia ini berdiamlah tujuh dewa. Di antaranya tiga dewa penciptaan: Garin Sang Kaisar Bijak, Mythica Sang Dewi Pejuang, dan Heartia Sang Pelindung Para Jiwa. Lalu tiga dewa kehancuran: Ortho Sang Raja Para Orang Bodoh, Rogue Sang Kuil Yang Hilang, dan Lailai Sang Dewa Prasangka Palsu. Serta Dewa Ketiadaan Abadi yang tak bernama. Di awal zaman, ketujuh dewa tersebut berulang kali membawa kemakmuran juga kehancuran bagi dunia. Kini dunia telah melalui pengulangan untuk keenam kalinya, dan kali ini pemerintah Jepang berusaha mencegah kehancuran dunia dengan cara menemukan wujud reinkarnasi dari dewa-dewa tersebut. Di antara ketujuh dewa itu, yang paling diistimewakan ialah Dewa Ketiadaan Abadi yang tak bernama, di mana kekuatan dewa tersebut masih belum sepenuhnya dipahami, dan aku, Hiki— wuaaah… kau pandai sekali membuat pertanyaan menjebak! Hahaha, aku benar-benar syok. Kau hampir membuatku membeberkan segalanya tadi!

Tapi aku sama sekali tak berniat menjebakmu…

Menjijikkan…

Yuigahama, hati-hati dengan ucapanmu. Tak menutup kemungkinan suatu hari nanti kau tanpa sengaja membunuh dirimu sendiri.

Yukinoshita berdesah kesal, kemudian kembali bolak-balik menatap ke arahku dan ke arah Zaimokuza sebelum lanjut berbicara.

Dengan kata lain, Hikigaya ternyata ada di golongan yang sama dengan anak yang di sana itu. Makanya ia tahu banyak ketika menyinggung soal jenderal ahli pedang atau apalah sebutannya tadi.

Bukan, bukan, bukan, kau ini bicara apa, Yukinoshita? Jelas-jelas itu keliru. Jelas ada alasan tersendiri kenapa aku sampai tahu banyak… itu karena aku mengikuti pelajaran Sejarah Jepang. Itu karena aku memainkan game Nobunaga no Yabou. Begitu.

E-eh…

Yukinoshita menatapku penuh keraguan. Tepatnya, aku seperti tetap dijadikan tersangka sampai ada bukti kalau aku tak bersalah.

Yang jelas aku tak berusaha mengelak. Karena aku tak sama dengan Zaimokuza. Kutatap balik Yukinoshita dengan penuh percaya diri. Karena yang dikatakannya itu tidaklah benar.

Sudah pasti aku tak sama dengan Zaimokuza… lagi.

Nama Hachiman memang langka. Karenanya, ada saat di mana sewaktu masa kecilku aku sempat bertanya-tanya, apakah aku ini sebuah keberadaan yang istimewa. Dan sebagai bocah yang juga menggemari anime dan manga, maka wajar kalau aku pernah terjebak dalam khayalan semacam itu.

Sambil berbaring di atas futon, aku bisa membayangkan ada sebuah kekuatan hebat yang bersemayam di dalam diriku, dan suatu hari nanti, kekuatan tersebut tiba-tiba akan bangkit dan aku pun terlibat dalam pertempuran yang mempertaruhkan nasib dunia. Demi mempersiapkan datangnya hari itu, aku bahkan menyimpan sebuah buku harian dunia roh dan tiap tiga bulannya, akan kutulis laporan yang ditujukan untuk pemerintah. Semua orang pernah melakukan itu, ‘kan? …mereka pasti pernah, ‘kan…?

…yah, bagaimana menjelaskannya, ya…? Mungkin di masa lalu kami ini sama, tapi untuk sekarang kami berbeda.

Hm… begitu, ya…

Yukinoshita tersenyum mengejek ke arahku kemudian berjalan mendekati Zaimokuza.

Sewaktu kupandangi punggungnya yang kian menjauh itu, sebuah pikiran mendadak terlitas di benakku.

Apa aku yang sekarang sudah benar-benar berbeda dibanding Zaimokuza?

Jawabannya jelas, Iya.

Aku tak lagi mengkhayalkan hal-hal konyol, dan tak lagi menulis buku harian dunia roh maupun laporan pemerintah. Satu-satunya yang belakangan ini masih kutulis dalam ingatanku yakni Daftar Orang-Orang Yang Takkan Kumaafkan. Tentu saja, orang pertama dalam daftar itu ialah Yukinoshita.

Aku tak lagi memainkan model plastik Gundam sambil membuat efek suara dengan mulutku sendiri, dan aku tak lagi bermain-main dengan jepitan baju untuk menciptakan sosok robot terkuat. Aku pun sudah tak lagi menggunakan karet gelang serta kertas alumunium sebagai senjata pertahanan diri. Aku juga sudah berhenti mencoba ber-cosplay dengan mantel ayahku serta syal berbulu milik ibuku.

Aku jelas berbeda dibanding Zaimokuza.

Seiring waktu, akhirnya aku berhasil mengatasi kebimbanganku dan mencapai kesimpulan tersebut, Yukinoshita sendiri telah berdiri tepat di depan Zaimokuza. Yuigahama lalu berbisik dengan keras, Yukinon, cepat menjauh! Oh, lelaki yang malang…

Kurasa aku mengerti. Kau kemari agar kami bisa membantumu menyembuhkan penyakit ini, benar begitu?

…Hachiman. Aku bergabung denganmu di tempat ini agar bisa mengetahui apa kau akan patuh pada perjanjian dan tetap mengabulkan keinginan kita. Itu tak lain hanyalah hasrat angkuh semata.

Zaimokuza mengalihkan pandangannya dari Yukinoshita dan menatap ke arahku. Ia benar-benar mengganti kata ganti orang pertama dengan kata kita pada kalimat barusan… memangnya selinglung apa, sih, anak ini?

Kemudian aku pun menyadari sesuatu. Anak ini… setiap kali ia bicara menghadap Yukinoshita, ia pasti segera berbalik menghadap ke arahku.

Yah, bukan berarti kalau aku tak punya simpati. Sebelum aku tahu seperti apa sosok asli Yukinoshita, aku pun sering merasa gugup dan tak bisa menatap langsung wajahnya setiap kali ia bicara padaku.

Namun Yukinoshita tak memiliki kepekaan yang pada umumnya orang awam miliki, dan bukan tipe yang bakal memikirkan tipe orang panik seperti ini.

Perhatikan aku bicara. Setidaknya, saat ada yang bicara denganmu, kau pun harus memandang langsung lawan bicaramu.

Sambil mengatakannya dengan dingin, Yukinoshita mencengkeram kerah baju Zaimokuza dan memaksa anak itu menghadap ke arahnya.

Tentu saja, meski Yukinoshita sendiri tak bersikap sopan, ia menjadi begitu menjengkelkan jika menyangkut sopan santun orang lain. Bahkan hal tersebut sampai pada tahap di mana aku memberi salam setiap kali bertemu dengannya di ruang klub.

Ketika Yukinoshita melepaskan cengkeramannya, Zaimokuza pun mulai terbatuk-batuk. Bisa ditebak, ini bukan waktu yang tepat baginya untuk tetap menjadi karakter itu.

…mu-muwahahaha… demi Tuhan…

Dan berhentilah bicara seperti itu lagi.

Sewaktu Zaimokuza dijatuhkan dengan cepatnya oleh Yukinoshita, ia langsung terdiam dan tertunduk.

Kenapa kau memakai mantel di musim seperti ini?

…he-hem… jubah ini melindungiku dari bermacam energi iblis yang ada di dunia ini, dan ini adalah satu dari kedua belas alat surgawi milikku. Namun ketika aku bereinkarnasi ke dunia ini, jubah tersebut memberiku kemampuan untuk mengubah tubuhku ke dalam wujud yang paling cocok. Fuwahahaha!

Berhenti bicara seperti itu.

Ba-baik…

Lalu kenapa kau mengenakan sarung tangan fingerless? Apa itu ada kegunaannya? Kau tak bisa melindungi jari-jarimu kalau seperti itu.

…ah, iya. Eng… ini adalah sesuatu yang kuwarisi dari kehidupanku yang sebelumnya, satu dari kedua belas alat surgawi milikku, zirah istimewa yang bisa menembakkan berlian, jadi agar lebih mudah digunakan saat bertarung, kubiarkan saja jari-jariku tak terlindungi… pastinya begitu! Fuwahahaha!

Lagi-lagi berbicara seperti itu.

Hahaha! Hahaha… hah…

Mulanya Zaimokuza tertawa kencang, namun lambat laun berubah menjadi desahan menyedihkan. Lalu, ia pun kembali terdiam.

Mungkin saja di titik itu ia merasa tak tega pada Zaimokuza, soalnya Yukinoshita mendadak berubah dan memperlihatkan ekspresi bersahabat.

Jadi, apa itu bisa kami anggap sebagai pernyataanmu yang menginginkan penyakit ini agar disembuhkan?

…ah, itu sesungguhnya bukan benar-benar penyakit…

Zaimokuza masih tak berani menatap langsung wajah Yukinoshita dan berbicara dengan suara rendah. Hanya sesekali ia melirik ke arahku sambil memperlihatkan ekspresi kesulitan.

Ia benar-benar kembali ke jati dirinya yang asli.

Tampaknya Zaimokuza tak punya lagi daya untuk bertahan lebih lama dalam karakternya sewaktu diserang langsung oleh tatapan berbinar Yukinoshita.

Uh! Aku sungguh tak sanggup lagi menyaksikan hal ini! Zaimokuza sudah begitu menyedihkan. Entah kenapa aku jadi ingin melemparkan rakit penyelamat ke arahnya.

Kuputuskan bahwa yang terbaik saat ini adalah memisahkan Zaimokuza dari Yukinoshita terlebih dahulu, lalu dengan niat tersebut, segera kulangkahkan kakiku. Tapi aku merasa seperti menginjak sesuatu.

Rupanya aku menginjak salah satu kertas yang sempat dihempaskan badai di sekeliling ruangan ini sebelumnya.

Saat kuambil kertas tersebut, kulihat kumpulan aksara sulit kanji yang saling berjejer, dan perhatianku benar-benar tercuri oleh lembaran kertas ini.

Lo, ini…

Kutengadahkan pandanganku dari lembaran tersebut dan beralih ke sisi tengah ruangan. Rupanya lembaran kertas ini mempunyai format empat puluh dua huruf per baris serta mencakup tiga puluh empat baris di tiap kolomnya. Kupunguti lembaran yang berserakan itu satu demi satu dan mulai menyusunnya sesuai urutan.

Hmm… sudah kuduga, tak perlu aku memberitahumu agar kau menyadarinya. Aku yakin, ini bukti bahwa sewaktu kita menghadapi masa-masa mengerikan bersama dulu bukanlah sebuah kesia-siaan.

Zaimokuza berbicara dengan suara yang cukup menggebu-gebu, namun aku tak memedulikannya. Yuigahama lalu memerhatikan kumpulan kertas yang sedang kupegang.

Itu apa?

Kusodorkan bundelan kertas itu kepadanya, dan ia pun mulai membalik-balik halamannya, memeriksa apa isinya. Aku hampir melihat gambaran tanda tanya melayang di atas kepalanya sewaktu ia mencoba membaca tiap lembarnya, namun akhirnya ia menghela napas panjang dan menyodorkan kembali kumpulan kertas itu kepadaku.

Ini apa?

Kurasa… rancangan konsep sebuah novel.

Terpancing oleh kata-kataku, Zaimokuza berdeham seolah berusaha mengulang pembicaraan.

Aku merasa sangat tersanjung oleh wawasan luasmu. Betul, itu adalah manuskrip dari sebuah light novel. Aku berencana ikut serta dalam sebuah kompetisi novel untuk para penulis baru. Karena aku tak punya teman, jadi aku tak punya pendapat lain di luar pendapatku sendiri. Karena itu, mohon dibaca.

Entah kenapa, aku merasa perkataannya tadi begitu menyedihkan…

Bisa dibilang, keinginan untuk menjadi penulis light novel adalah sebuah konsekuensi wajar bagi mereka yang mengidap chuunibyou. Hal tersebut cukup bisa dimengerti bagi mereka yang ingin mewujudkan beberapa khayalannya. Ditambah, bukan hal aneh bagi para pengidap chuunibyou jika mereka berpikir bisa menjadi novelis hebat dikarenakan khayalan berlebihan mereka. Dan tentu saja, sebuah hal menyenangkan bisa mendapat nafkah dari sesuatu yang kita cintai.

Jadi, sama sekali bukan hal aneh bagiku jika Zaimokuza berkeinginan menjadi seorang penulis light novel.

Yang lebih aneh adalah ia repot-repot kemari demi memperlihatkan hasil karyanya itu kepada kami.

Di internet, ada situs tempat kau bisa memajang karyamu sekaligus meminta tanggapan dari para pembaca, jadi kenapa kau tak mencobanya saja dulu?

Percuma. Orang-orang di sana tak punya belas kasihan. Terlalu banyak kritikan, bisa-bisa aku bakal mati.

…dasar lemah.

Tapi memang, orang-orang di internet takkan menunjukkan rasa sungkan dan akan berkata semau mereka saja. Sedangkan bagi teman, mereka akan lebih memikirkan perasaan dan berusaha mengatakan hal-hal yang bisa membuat kita lebih baik.

Pada umumnya, mengingat seperti apa hubungan di antara kami dan Zaimokuza, pasti akan sulit bagi kami untuk bersikap tegas padanya. Pasti sulit melontarkan kritikan-kritikan kalau berhadapan langsung dengan orangnya. Mungkin kami harus melakukannya daripada tak berbuat apa-apa. Namun itu hanyalah sesuatu yang umumnya bakal terjadi…

Biar begitu…

Sekilas aku memandang ke samping dan sedikit menghela napas. Yukinoshita menatapku dan kubalas menatapnya dengan ekspresi datar.

Yukinoshita mungkin lebih kejam daripada orang-orang di internet.— II —


Yukinoshita, Yuigahama, serta diriku masing-masing membawa salinan manuskrip yang ditawarkan Zaimokuza pada kami dan memutuskan untuk membacanya semalaman ini.

Kalau aku boleh menebak langsung genre dari light novel karangan Zaimokuza, aku akan bilang kalau itu adalah novel aksi kekuatan super yang berlatar di sekolah.

Ceritanya berlangsung di sebuah kota kecil di Jepang, di sebuah tempat di mana organisasi rahasia kegelapan yang terselubung beserta orang-orang berkekuatan super dengan kenangan masa lalu mereka saling berjuang satu sama lain. Di tengah-tengah itu, seorang pemuda yang biasa-biasa saja mendadak bangkit kekuatan tersembunyinya dan secara spektakuler mulai menumbangkan satu persatu musuhnya.

Saat aku telah selesai membaca novelnya, tahu-tahu langit sudah terang.

Alhasil, aku malah jadi sering mengantuk sepanjang pelajaran. Terlepas dari itu, setelah jam keenam yang senggang dan sesi bimbingan kelas yang singkat, kuputuskan untuk menuju ke ruang klub.

Hei! Tunggu, tunggu!

Sewaktu berjalan menuju ke arah paviliun, kudengar sebuah suara memanggilku dari belakang. Saat aku menoleh, Kulihat Yuigahama mengejarku sambil menenteng tas sekolah yang tampak tipis itu di bahunya.

Hikki, kau kelihatannya kurang sehat. Ada apa, nih?

Ah, bagaimana, ya? Namanya juga telalu lama membaca, sudah pasti capek… mengantuk sekali rasanya. Padahal sudah sebanyak itu membaca, tapi kau kok masih kelihatan segar begitu, ya?

Eh?

Yuigahama beberapa kali mengedipkan matanya.

…ah… be-benar juga. Rasanya mengantuuuuk banget…

Kau pasti tak membacanya, ‘kan…?

Yuigahama tak menjawab pertanyaanku, ia malah bersenandung sambil memandang ke luar jendela. Ia berpura-pura polos, tapi aku bisa melihat keringat dingin mulai mengalir dari pipi hingga lehernya… aku penasaran apa keringat itu bisa sampai memperlihatkan yang ada di balik blusnya…— II —


Ketika aku membuka pintu ruang klub, yang menyambutku adalah sebuah pemandangan langka dari Yukinoshita yang menundukkan kepala.

Kerja bagus semalam.

Aku menegurnya tetapi Yukinoshita dengan nyamannya kembali tertidur, bahkan napasnya pun terdengar lembut. Wajahnya yang tampak hampir tersenyum itu sangat jauh berbeda dengan sikap tegas dan tak ramah yang biasanya ia perlihatkan, dan aku merasa jantungku berdetak lebih cepat saat melihat pemandangan tak biasa itu.

Aku hampir merasa bakal terus berdiam di sini dan selamanya menyaksikan ia tertidur. Melihat rambut hitamnya berayun ke sana kemari dengan lembut, melihat kulit putihnya yang halus dan berseri, melihat mata bulatnya yang berkaca-kaca, melihat bibir berwarna merah mudanya yang elok…

Bibirnya sedikit bergerak.

…aku terkejut. Begitu melihat wajahmu, rasa kantukku langsung hilang.

Wuah… rasanya aku baru saja tersadar. Hampir saja aku lepas kendali setelah terpedaya penampilan cantiknya tadi. Serius, aku lebih senang kalau disuruh membuat gadis ini agar tertidur selamanya.

Yukinoshita menguap seperti anak kucing, lalu merenggangkan kedua tangannya di atas kepala.

Kelihatannya tadi malam kau juga sudah berjuang keras, ya?

Iya, sudah lama aku tak mengerjakan sesuatu sampai semalam suntuk begini. Lagi pula, aku sama sekali tak pernah membaca yang seperti ini… rasanya aku tak terlalu bisa menangani hal yang semacam ini.

Betul. Aku juga agak kesulitan.

Kau sama sekali tak membacanya. Jadi baca dulu sana!

Menanggapi ucapanku, Yuigahama mengerang marah dan ragu-ragu mengeluarkan manuskrip dari dalam tasnya. Tak satu pun bekas lipatan terlihat pada salinan yang dipegangnya; itu masih dalam kondisi bagus. Yuigahama lalu mulai membalik tiap lembar halaman manuskripnya itu dengan begitu cepat.

Ia tampak jenuh sekali sewaktu membacanya… kupandangi Yuigahama dan mulai berbicara.

Tak semua light novel sama seperti yang dibuat Zaimokuza itu. Ada lumayan banyak yang bagus untuk dibaca.

Aku mengatakannya dengan penuh kesadaran tanpa maksud menolong Zaimokuza. Yukinoshita memiringkan kepalanya dan bertanya padaku.

Maksudmu, seperti yang belakangan ini sering kaubaca di ruang klub?

Betul, salah satunya itu. Coba saja baca Gaga

Lain kali saja kalau ada waktu.

Aku merasa peraturan orang yang takkan mau membacanya benar-benar berlaku di sini. Di saat yang sama, aku mendengar suara ketukan yang keras pada pintu ruang klub.

Ini orang yang memohon bantuanmu tempo hari…

Zaimokuza lagi-lagi berbicara dengan gaya zaman kerajaan, lalu ia pun masuk ke dalam ruangan.

Baiklah, mari dengarkan seperti apa kesan kalian.

Zaimokuza mendudukkan dirinya ke kursi lalu menyilangkan kedua lengannya dengan angkuh. Tampak di wajahnya semacam rasa superior yang entah dari mana asalnya. Sebuah ekspresi yang dipenuhi rasa percaya diri.

Meski duduk berseberangan dengan Zaimokuza, Yukinoshita justru menampakkan ekspresi menyesal yang tak biasanya ia perlihatkan.

Maaf. Aku tak begitu paham mengenai hal semacam ini, tapi…

Yukinoshita memulai pembicaraan dengan kalimat itu, namun Zaimokuza menanggapinya dengan kalem.

Tak masalah. Bahkan orang sepertiku ini terkadang ingin mendengarkan pendapat rakyat jelata. Ungkapkan saja.

Begitu. Yukinoshita memberi tanggapan singkat dan menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk menjelaskan.

Terasa membosankan. Jujur, membacanya hampir membuatku tersiksa. Ini lebih membosankan dari yang kubayangkan.

Oofgh!

Zaimokuza tumbang dalam sekali serang…

Kursinya berderak sewaktu dirinya rebah ke belakang, tapi Zaimokuza berhasil menjaga keseimbangannya dan kembali duduk dengan tegak.

H-hmm… baiklah, untuk referensiku, bisa kau beri tahu bagian mana yang membosankan?

Pertama, tata bahasanya kacau. Kenapa kau sering sekali membolak-balik urutan kalimatnya? Apa kau tak tahu cara menggunakan partikel? Apa gurumu tak mengajari hal tersebut saat kau SD?

Heng… kupikir gaya tersebut akan lebih bisa membawa para pembaca masuk ke dalam cerita…

Bukankah kau seharusnya memikirkan hal itu setelah mampu menulis dengan standar tata bahasa Jepang yang benar? Lagi pula, kau sering sekali keliru menggunakan furigana. Di sini kau menulis kanji nouryoku (kemampuan) tapi furigana-nya tertulis chikara (kekuatan)… tak seorang pun mengeja seperti itu. Dan juga, di sini kau menulis Genkou Hasen yang harfiahnya berarti Tebasan Hantu Merah Darah, tapi kau justru menulis furigana Penebas Mimpi Buruk Berdarah di atasnya. Dari mana asalnya kata Mimpi Buruk tadi?

Ufgh! O-ooo… kau salah paham! Belakangan ini, semua novel aksi supernatural memang sering menggunakan banyak furigana

Kau melakukan ini sesuai dengan seleramu saja. Hal seperti ini takkan mampu membuat siapa pun mengerti. Apa kau benar-benar ingin agar orang lain membaca karyamu ini? Jujur, kalau kau ingin agar orang lain membacanya, kau harus membuat cerita ini supaya sedikit sulit ditebak. Aku bisa memprediksi yang akan terjadi pada cerita khayalan macam ini dan tak ada tanda-tanda ceritanya akan jadi lebih menarik. Dan juga, kenapa tokoh utama perempuannya sampai melepas pakaian di sini? Sama sekali tak ada gunanya.

Heng…! Ta-tapi novel yang tak memasukkan unsur semacam itu, tak bakal laku… jadi mau tak mau harus… begitu…

Ditambah, narasinya juga terlalu panjang, begitu banyak kanji yang berbelit, sehingga sulit sekali untuk dibaca. Dan juga, jangan membuat orang lain membaca cerita yang belum selesai. Sebelum lebih jauh membahas soal gaya penulisan, mungkin kau harus memakai akal sehat terlebih dahulu.

Pnnghyahhh!!

Tungkai Zaimokuza pun menegang dan ia sampai membuat suara pekikan. Bahunya mengejang dan matanya kosong menatap ke langit-langit. Reaksi berlebihannya tadi sudah cukup mengganggu, ia harus segera menghentikan tindakannya itu…

Kita hentikan saja dulu. Bisa gawat kalau kau melakukan semua itu dalam sekali duduk.

Padahal masih banyak yang ingin kukatakan… tapi, ya sudahlah. Kurasa berikutnya giliran Yuigahama.

Eh? A-aku?!

Yuigahama tampak terkejut, dan Zaimokuza menatapnya dengan tampang memelas. Mata anak itu sudah berkaca-kaca. Mungkin Yuigahama sadar dan merasa kasihan dengan lelaki malang ini, jadi ia kelihatan berusaha memikirkan semacam pujian untuk menghiburnya. Ia termenung selagi memandang ke atas lalu memberanikan diri mengucapkan beberapa kata.

E-eng… ba-banyak juga kata-kata sulitnya, ya…

Uwaaagghhhh!!

YahariLoveCom v1-179.png

Kau benar-benar menghabisinya…

Bagi seorang novelis ambisius, komentar tersebut sama saja seperti penolakan. Lagi pula, jika dipikir baik-baik… cuma itu saja satu-satunya hal bagus yang ada di novel Zaimokuza. Itu kalimat yang wajar diucapkan oleh orang-orang yang tak begitu mengenal light novel saat mereka dimintai pendapat oleh sang penulis. Dan itu benar-benar tak ada bedanya dengan berkata bahwa karya tersebut sama sekali tak menarik.

Ba-baiklah… Hikki, silakan.

Yuigahama terlihat seolah ingin melarikan diri sewaktu ia berdiri dan menawariku untuk di duduk di kursinya. Aku pun duduk menghadap Zaimokuza lalu Yuigahama mengambil kursi lain dan duduk di samping belakangku.

Tampaknya ia tak mampu lebih lama lagi menghadapi langsung Zaimokuza yang sudah pucat tak berdaya itu.

G-gnnghh.. Ha-Hachiman. Kau mengerti diriku, ‘kan? Dunia yang kuciptakan, pemandangan amat luas dari keagungan light novel ini… kau mengerti itu, ‘kan? Kau mengerti cerita mendalam yang kuputarbalikkan ini agar mereka yang bodoh tak bakal berusaha menghargainya… ‘kan?

Ya… aku mengerti betul dirinya.

Dengan meyakinkan kuanggukkan kepala ini. Zaimokuza lalu menatapku dengan tatapan penuh percaya.

Kurasa sebagai lelaki aku harus menjawabnya dengan jujur. Kutarik napas dalam-dalam dan berkata dengan ramah.

Jadi… ini kau-copas dari mana?

Hnghh?! B-bngghh… (glup, glup)

Zaimokuza menggeliat ke sana kemari di lantai, lalu berhenti setelah menabrak tembok. Kemudian ia terbaring di sana, tanpa bergerak sedikit pun. Tatapan kosongnya tertuju ke langit-langit, dan linangan air mata mulai mengalir turun ke pipinya. Itu adalah pemandangan dari seorang pria yang sudah siap untuk mati.

…kau memang tak kenal ampun. Itu jelas lebih kejam dari pendapatku tadi.

Yukinoshita tampak benar-benar terkejut.

…hei…

Yuigahama menyenggolkan sikutnya padaku. Terlihat kalau ia ingin agar aku lanjut berbicara. Tapi apa yang harus kukatakan…? Sewaktu berusaha memikirkannya, kusadari kalau aku telah lupa menyebutkan salah satu dasar terpenting yang berhubungan dengan light novel.

Yah, yang penting itu ilustrasinya. Tak usah terlalu cemas soal penulisannya.— II —


Hampir seolah sedang mengikuti kelas persalinan, Zaimokuza berlatih pernapasan untuk menenangkan dirinya. Ia lalu bangkit dengan tungkai yang gemetar layaknya anak rusa yang baru lahir.

Setelah itu, Zaimokuza membersihkan debu yang ada tubuhnya dengan kedua tangan sambil melihat ke arahku.

…apa kalian masih mau… membaca karyaku lagi?

Aku tak percaya dengan yang kudengar. Aku terdiam, tanpa mampu memahami yang ia ucapkan. Ia mengulanginya kembali, tapi kali ini lebih jelas dan lebih keras terdengar.

Maukah kalian membaca karyaku lagi?

Ia memandang ke arahku dan ke arah Yukinoshita dengan penuh semangat.

Kau ini…

Kau benar-benar masokis, ya?

Yuigahama sudah bersembunyi dalam bayanganku sambil menatap Zaimokuza dengan jijik. Tatapannya seolah berkata, Mati saja kau maniak! Padahal Yuigahama sudah salah paham mengenai maksudnya.

Setelah semua yang kaualami hari ini, kau masih mau melakukannya lagi?

Tentu saja. Kritikan-kritikan tadi memang cukup kejam. Mereka memang mau membuatku merasa ingin mati, merasa tak populer dan tak punya teman. Atau lebih tepatnya, mereka mau membuatku merasa ingin agar semua orang mati.

Ya, aku mengerti maksudmu. Aku pun bakal merasa ingin mati kalau ada yang bicara sekejam itu padaku.

Namun Zaimokuza tak terlalu menanggapinya, dan masih berbicara dengan kami di sini.

Biar begitu. Biarpun begitu, komentar-komentar tadi membuatku senang. Mengetahui bahwa karya yang kutulis karena hobi ini sampai dibaca dan dikritik oleh orang lain… jelas bukanlah sesuatu yang buruk. Sulit bagiku untuk menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini… tapi mengetahui bahwa karyaku ini sampai dibaca oleh orang lain, itu jelas membuatku senang.

Sambil mengatakannya, Zaimokuza pun tersenyum.

Itu bukanlah senyum milik sang jenderal ahli pedang, melainkan sebuah senyum milik Yoshiteru Zaimokuza sendiri.

Ah… begitu rupanya.

Anak ini tak hanya mengidap chuunibyou. Ia juga mengidap sakkabyou (sindrom penulis) yang parah.

Ia ingin menulis karena ada yang ingin ia ceritakan. Lalu jika ia mampu membawa pengaruh pada seseorang lewat tulisannya itu, ia akan merasa senang. Karena itu ia akan terus menulis dan menulis kembali. Meski tak ada yang mengakui karyanya, ia akan terus menulis. Itulah yang kumaksud dengan sakkabyou.

Oleh karena itu, cuma ada satu cara untuk menanggapinya.

Baiklah, akan kubaca nanti.

Tak mungkin aku bisa menolaknya. Lagi pula, ini merupakan fase terakhir dari keadaan mental Zaimokuza setelah ia bergumul dengan chuunibyou yang diidapnya selama ini. Meski orang-orang menganggapnya sakit, meski orang-orang memandang sinis dirinya, meski orang-orang mengabaikan ataupun mengejeknya, ia takkan pernah meyurutkan tekadnya, ia takkan pernah menyerah, dan ia akan terus berusaha membuat khayalannya itu agar menjadi kenyataan.

Jika novel baruku sudah selesai, akan kubawa kemari.

Setelah berkata demikian, Zaimokuza pun berbalik membelakangi kami, lalu melangkah keluar ruangan dengan anggunnya.

Pemandangan pintu yang tertutup di belakangnya itu sungguh tak enak dilihat.

Meskipun ia salah jalan atau menjadi pribadi yang kacau dan kekanak-kanakan, jika ia mampu mengekspresikan idenya, maka ia harus melakukan hal tersebut. Jika ia merasa ingin berubah hanya karena seseorang telah menolak idenya, berarti impiannya itu memang tak berharga, dan ia menolak menjadi dirinya sendiri. Karenanya, Zaimokuza tak perlu mengubah dirinya yang sekarang.

Yah, kecuali bagian menjijikkan dari kepribadiannya itu.— II —


Setelah kejadian itu, beberapa hari pun berlalu.

Waktu sudah memasuki jam pelajaran keenam. Pelajaran terakhir hari ini adalah Senam.

Seperti biasanya, aku berpasangan dengan Zaimokuza. Sama sekali tak ada yang berubah.

Hachiman. Menurutmu siapa ilustrator yang paling hebat dan populer saat ini?

Jangan terlalu percaya diri dulu. Pikirkan itu kalau kau sudah menjuarai kompetisinya.

Hmm… benar juga. Masalah utamanya adalah di mana aku harus memulai debut…

Kenapa kau sampai beranggapan kalau kau bisa menang?

…jika novelnya laku, mungkin orang-orang akan membuat adaptasi anime-nya dan aku bisa menikahi pengisi suaranya…

Cukup. Hentikan. Yang penting tulis saja manuskripnya, kau paham?

Selama Pelajaran Senam, aku dan Zaimokuza memulai perbincangan yang isinya kurang lebih seperti itu. Hanya itulah satu-satunya hal yang berubah.

Yah, walaupun isi perbincangan tadi memang tak begitu penting, bukan berarti kami membicarakan hal-hal menyenangkan. Karena itu kami tak pernah saling tertawa seperti para pasangan lainnya yang juga saling berbincang.

Bahasan yang kami perbincangkan tidaklah keren ataupun gaul, melainkan cuma diisi oleh hal-hal menyedihkan.

Aku sungguh berpikir bahwa kami memang bodoh karena berbuat begini. Aku sungguh merasa bahwa jelas-jelas tak ada gunanya berbuat begini.

Biarpun begitu… akhirnya Pelajaran Senam tak lagi menjadi waktu yang tak menyenangkan.

Yah, memang begitulah kenyataannya.

Catatan Penerjemah[sunting]

  1.  Ultra Quiz Lintas Prefektur Chiba merupakan plesetan dari kuis terkenal yang bertajuk ‘America Oudan Ultra Quiz (アメリカ横断ウルトラクイズ)
  2.  Mengenai soal pemetaan wilayah Chiba, silakan dilihat di tautan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *