• 082237***461
  • matematika@munharmath.my.id
  • MAN Karangasem

Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 7

Terkadang, Dewa Komedi Romantis Bisa Berbuat Hal Baik[sunting]

Jadi begitulah, hari-hari pun berlanjut dan kami melaju ke fase dua dari pelatihan tenis ini.

Mungkin kalimat barusan terdengar agak terlalu keren. Sederhananya, kami sudah melalui pelatihan dasar dan akhirnya berlatih dengan raket dan bola.

Meski sewaktu aku berkata kami, yang kumaksud sebenarnya adalah Totsuka seorang. Karena hanya Totsuka-lah satu-satunya anak yang menghabiskan waktunya untuk memukul bola ke tembok di bawah pengawasan Instruktur Yukinoshita.

Yah, bukan berarti kami bisa mengimbangi anggota Klub Tenis, itu sebabnya kami hanya menghabiskan waktu sesuka kami saja.

Yang dilakukan Yukinoshita hanyalah membaca buku di bawah naungan pohon sekitar, namun sesekali ia terlihat sedang mengigatkan Totsuka dan pergi mengamati serta memberi instruksi lebih lanjut.

Awalnya Yuigahama sempat mengikuti latihan bersama Totsuka, namun ia segera bosan dan kini malah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur siang di sebelah Yukinoshita. Yang dilakukannya mengingatkan kita sewaktu membawa anjing ke taman yang kelelahan dan merebahkan dirinya di dekat salah satu kolam penampungan air.

Lalu, Zaimokuza, dengan ciri khasnya, tampak sedang bersungguh-sungguh mengembangkan teknik pukulan ajaib pamungkasnya. Sial, harusnya ia berhenti melempar-lempar kenari. Dan harusnya ia juga berhenti menggali tanah lapangan dengan raketnya.

Pada akhirnya, hanya hal yang tak berguna mengumpulkan begitu banyak orang tak berguna ini ke dalam satu tempat.

Dan kalau aku, tak usah ditanya.

Aku bermalas-malasan di pojok lapangan sambil mengamati kawanan semut. Rasanya begitu menyenangkan.

Benaran, deh. Rasanya sangat-sangat menyenangkan.

Aku tak tahu apa yang dipikirkan makhluk kecil ini sampai segelisah itu ke sana kemari, tapi yang jelas, mereka hanya menjalani hidup mereka dengan penuh kesibukan. Kurasa itulah yang membuat diriku seakan sedang melihat ke bawah dari gedung perkantoran yang menjulang tinggi.

Gambaran kawanan semut yang tergesa-gesa ini serta gambaran karyawan kantoran berjas hitam terus terlintas di pikiranku.

Apa suatu hari nanti aku juga akan menjadi bintik-bintik hitam tadi yang bakal dilihat oleh orang lain dari ketinggian yang sama seperti gedung-gedung tinggi di Tokyo? Sebenarnya pikiran macam apa yang sedang kurenungkan ini?

Bukan berarti aku tak suka menjadi karyawan kantoran. Malahan, sebagian diriku ingin menjadi salah satunya. Profesi tersebut ada di peringkat dua dari daftar cita-citaku, di mana peringkat satunya adalah bapak rumah tangga siaga-sepanjang waktu. Peringkat tiganya adalah mesin pengapian. Gila, memangnya aku ini mau menjadi mobil, apa…?

Tentu saja aku sadar betul mengenai kekurangan dari menjadi seorang karyawan kantoran. Aku selalu kagum ketika melihat ayahku pulang dari kerja dengan wajah penuh kelelahan. Begitu mengagumkan melihat beliau yang setiap harinya berangkat kerja meski beliau sendiri tak merasa bahagia.

Karena itu tiba-tiba aku memproyeksikan gambaran akan ayahku kepada salah satu dari kawanan semut ini dan mulai menyemangatinya dalam hati.

Berjuanglah, Yah. Jangan menyerah, Yah. Jangan sampai botak, Yah.

Aku memimpikan masa depanku sendiri, kemudian mulai cemas akan masa depan rambutku sendiri.

Mungkin doaku tadi terkabulkan, soalnya semut itu mulai berbalik dan berjalan kembali ke arah lubang sarang tempat tinggalnya. Aku yakin kehangatan keluarga telah menunggu kepulangannya.

Syukurlah.

Dipenuhi oleh perasaan, aku terisak lalu mengusap air mataku.

Di saat bersamaan.

  • Wuuusss!*

“Ayaaah~~!!!”

Tanda-tanda kehidupan semut itu pun menghilang seiring bola yang jatuh melesat dari sisi pojok jauh lapangan.

Dengan mata yang dipenuhi kemurkaan, kuarahkan pandanganku ke sumber datangnya bola tadi.

“Hmm… jadi itu menciptakan kepulan debu untuk membingungkan musuh, lalu menggunakan kesempatan tersebut untuk melesatkan bola ke sana… tampaknya pukulan ajaibku ini telah sempurna. Ilusi elemen bumi yang membawa kemakmuran hasil alam, Blasting Sand Rock!”

Zaimokuza, rupanya ini ulahnya… apa yang sudah ia lakukan pada ayahku (versi semut)…? Terserah sajalah. Itu cuma seekor semut. Kutepuk kedua tanganku dan mulai memanjatkan sedikit doa.

Sementara itu, Zaimokuza tampak sedang terkesima dengan keberhasilan penyempurnaan teknik barunya, dan memutar raketnya berkali-kali sebelum menempatkannya di atas bahu sambil berpose. Rasanya seperti ia baru saja mendapat sejumlah EXP.

Terserah sajalah. Aku tak peduli soal Zaimokuza maupun semut itu.

…mungkin sebaiknya kuhabiskan saja waktu ini dengan melihat betapa manisnya tingkah Totsuka.

Sewaktu memikirkannya, kulihat Yuigahama ternyata sudah bangun, dan kini sedang disuruh-suruh oleh Yukinoshita untuk membawa keranjang bola ke sana kemari.

Ia bertugas mengambil bola dari keranjang, melempar bolanya ke sisi Totsuka, lalu Totsuka berusaha semampunya untuk mengembalikan bolanya.

“Yuigahama, tolong arahkan bolanya ke tempat yang lebih sulit lagi, seperti di sana atau di sana. Latihan macam tadi malah tak ada artinya.”

Tampak berbeda dengan kalem dan tenangnya Yukinoshita, Totsuka terengah-engah sewaktu mengejar bola ke sisi garis lapangan maupun ke dekat net.

Yukinoshita memang sungguh-sungguh. Dan ia memang sungguh-sungguh gila.

…tidak, ia hanya sungguh-sungguh berusaha melatih Totsuka saja. Dan kuharap ia berhenti memandangiku… rasanya ngeri sekali. Apa ia memang bisa membaca pikiranku…?

Arah bola Yuigahama benar-benar acak (tak bermaksud menyinggung form-nya), dan setiap bola yang dilemparnya benar-benar ke arah yang tak bisa ditebak. Totsuka berlarian ke sana-sini dan berusaha mengembalikan bolanya, namun kira-kira pada bola kedua puluh ia jatuh ke tanah.

“Waduh, Sai, kau baik-baik saja?!”

Yuigahama berhenti melempar bola dan berlari ke arah net. Totsuka mengusap lututnya yang lecet, namun sebuah senyum menghiasi matanya yang berkaca-kaca itu dan berusaha menegaskan kalau ia baik-baik saja. Rekanku ini memang berjiwa kesatria.

“Tidak apa-apa, teruskan saja.”

Akan tetapi, Yukinoshita tampak muram saat mendengarnya.

“Kau… masih masih mau lanjut?”

“Iya… kalian sudah mau repot-repot membantuku, jadi aku akan berusaha lebih keras lagi.”

“…baiklah, kalau begitu. Yuigahama, kuserahkan sisanya padamu.”

Saat mengatakannya, Yukinoshita berbalik dan dengan cepat menghilang ke arah gedung sekolah. Totsuka memandang kepergiannya dengan raut gelisah.

“Apa aku… sudah mengatakan sesuatu… yang membuatnya marah…?”

“Tidak, kok. Ia memang selalu seperti itu. Asalkan ia tak menyebutmu bodoh atau tak berbakat, berarti suasana hatinya masih sedang bagus.”

“Bukannya cuma Hikki saja yang dikata-katai seperti itu?”

Padahal ia sendiri juga sering dikatai-katai begitu… cuma Yuigahama saja yang tidak sadar.

“Apa mungkin ia… sudah lelah menghadapiku…? Aku belum begitu berkembang, dan aku hanya bisa push-up sebanyak lima kali saja…”

Bahu Totuska terturun, dan ia menundukkan pandangannya ke tanah. Hmm… kurasa itu tak begitu berbeda dengan yang biasanya Yukinoshita lakukan…

Meskipun begitu…

“Kurasa bukan itu deh masalahnya. Yukinon enggak bakal menelantarkan orang yang minta bantuan padanya.”

Ujar Yuigahama sambil memutar-mutar bola di tangannya.

“Yah, itu benar. Ia bahkan membantu Yuigahama dalam memasak. Jadi setidaknya kau masih punya harapan. Aku ragu Yukinoshita sudah menyerah padamu.”

“Apa maksudmu tadi?!”

Yuigahama mengambil bola yang ia mainkan tadi lalu melemparkannya ke kepalaku. Bolanya tepat mengenai sasaran sampai menimbulkan bunyi dug!. Yang benar saja? Kontrol lemparannya tadi benar-benar bagus. Aku takkan terkejut kalau ia bakal masuk dalam daftar uji coba pemain inti.

Kuambil bola yang menggelinding di tanah itu lalu dengan pelan melemparkannya kembali ke arah Yuigahama.

“Ia pasti akan datang. Jadi, mau dilanjutkan?”

“…oke!”

Jawab Totsuka bersemangat, dan ia pun kembali berlatih

Setelahnya, untuk sementara tak terdengar lagi ada keluhan maupun tangis air mata.

Totsuka sedang berusaha semampunya.

“Uh, capek banget~~ Hikki, gantikan aku, dong.”

Nyatanya, justru Yuigahama yang mulai mengeluh…

Yah, walau sebenarnya aku tak begitu berbuat banyak.

Satu-satunya pilihan bagiku kini hanyalah kembali mengamati semut-semut.

Namun semut-semut tersebut sudah dibantai Zaimokuza, makanya sekarang aku merasa bosan. Tak ada lagi yang bisa kulakukan.

“Boleh. Ayo gantian.”

“Hore~~ eh, sekadar info, saat bola keenam nanti, rasanya bakal membosankan, lo. Jadi siap-siap saja.”

Bola keenam?! Cepat sekali. Seburuk itukah daya tahannya?

Sewaktu aku beranjak mengambil kumpulan bola dari Yuigahama, kulihat senyum yang terpampang di wajahnya tadi berubah menjadi suram dan sedikit samar.

“Wah, lihat! Ada yang main tenis!”

Aku berbalik mengahadap sumber suara riang itu, dan kulihat ada segerombolan anak dengan Hayama dan Miura sebagai pusatnya. Mereka berjalan menuju ke arah kami, dan sewaktu melewati Zaimokuza, mereka tampak menyadari keberadaanku dan Yuigahama.

“Eh… ada Yui…”

Ucap perempuan di sebelah Miura dengan suara pelan.

Miura sesaat memandang ke arahku dan Yuigahama sebelum mengabaikan kami lalu beralih pada Totsuka. (Tampaknya ia benar-benar tak menyadari keberadaan Zaimokuza.)

“Hei, Totsuka. Kami boleh ikutan main, enggak?”

“Miura, aku… tidak sedang bermain… aku sedang latihan…”

“Hah? Apa? Aku enggak dengar.”

Ucapan Totsuka begitu pelan dan tampaknya Miura tak mendengarnya. Totsuka terdiam mendengar balasan Miura. Bagaimana tidak, jika seseorang bertanya padaku dengan cara seperti itu, aku pun pasti akan ikut terdiam. Perempuan itu benar-benar mengerikan.

Totsuka mengumpulkan sedikit keberanian yang masih dipunyainya dan mencoba menjawab kembali.

“A-aku sedang latihan…”

Tapi sang tuan putri tak tampak puas.

“Hmm… tapi kok, ada orang selain anggota Klub Tenis di sini? Jadi artinya, lapangan ini enggak disediakan khusus buat anak-anak Klub Tenis saja, ‘kan?”

“Me-memang benar, sih… tapi…”

“Kalau begitu enggak masalah kalau kita ikut main di sini. Iya, ‘kan?

“…tapi…”

Setelah mengatakannya, Totsuka tampak panik dan melihat ke arahku. Eh, aku?

Yah, kurasa memang tak ada lagi orang yang bisa ia andalkan. Yukinoshita sedang pergi entah ke mana, Yuigahama memalingkan pandangannya dengan wajah gelisah, dan tak ada yang memedulikan keberadaan Zaimokuza… jadi kurasa memang cuma aku.

“Oh, maaf, tapi Totsuka sudah meminta izin guru untuk memakai lapangan ini. Jadi orang lain tak boleh menggunakannya.”

“Hah? Makanya tadi aku tanya, padahal kau bukan anggota Klub Tenis tapi kok boleh menggunakannya?”

“Ah, eng… soalnya kami di sini membantu Totsuka latihan. Yah, semacam tenaga kerja lepas begitu.”

“Eh? Kau ini mengoceh apa? Menjijikkan, tahu.”

Wuah, perempuan ini memang sama sekali tak punya niat mendengarkanku. Makanya aku benci perempuan bispak macam begini. Primata macam apa yang tak mengerti ucapan manusia? Anjing saja bisa mengerti. Ya, Tuhan.

“Sudah, sudah, jangan bertengkar.”

Sela Hayama ingin menengahi.

“Bakal lebih seru kalau semuanya bisa ikut main. Begitu saja enggak apa-apa, ‘kan?”

Kata-kata Hayama langsung mengusik pikiranku. Miura sudah mengokang senapannya dan Hayama yang menarik pelatuknya.

Yah, aku hanya perlu balas menembak saja.

“Semuanya… apa-apaan itu? Itu sama saja seperti saat kau merengek meminta sesuatu pada orang tuamu dan memakai alasan, Semuanya sudah punya, kok! Jadi siapa yang kaumaksud semuanya itu…? Aku jarang berteman, jadi aku tak terbiasa dengan kalimat itu…”

Itu adalah makna ganda antara kata tembak (撃つ) dan murung (鬱)! Sebuah kombinasi yang mengagumkan!

Bahkan Hayama sekalipun harus mengalah karenanya.

“Ah, eng… bukan begitu maksudku. Eng… maaf, deh. Kalau memang ada yang mau kaukatakan, bilang saja padaku.”

Ucapnya ingin menenangkanku dengan begitu sigap.

Hayama memang orang yang baik. Aku hampir terharu dan hendak berterima kasih padanya.

Tapi…

Jika aku bisa tertolong karena simpati murahan macam itu, maka dari awal aku tak perlu ditolong. Jika permasalahanku bisa teratasi karena kata-kata barusan, berarti sebenarnya aku tak punya masalah.

“…Hayama, aku hargai kebaikanmu. Aku tahu betul kalau kepribadianmu memang bagus. Ditambah, kau pemain andalan Klub Sepakbola. Wajahmu pun cukup tampan, ya ‘kan? Aku yakin kau cukup populer di kalangan anak perempuan!”

“Ke-kenapa kau berkata begitu…?”

Hayama jelas terguncang oleh sanjungan dadakanku. Bagus, bagus, biar ia puaskan dirinya sendiri.

Aku yakin Hayama tak tahu soal ini.

Apa alasan seseorang sampai bisa memuji orang lain? Itu karena semakin orang itu merasa tinggi, maka semakin keras jatuhnya.

Itulah yang disebut mati karena pujian.

“Kau begitu diberkati dan sangat bersinar, tapi kenapa masih saja mau merebut lapangan tenis ini dari kami yang tak punya apa-apa ini? Apa kau tak malu berbuat seperti itu?”

“Tepat sekali! Tuan Hayama! Yang kaulakukan itu benar-benar hina! Ini penjajahan! Tunggu pembalasanku!”

Tanpa diduga, Zaimokuza datang dan mulai melontarkan kata-kata heboh.

“Kalau mereka bersama, situasinya malah jadi dua kali lebih suram dan menyedihkan…”

Yuigahama lalu tertegun berdiri di sebelah kami. Dan Hayama menggaruk kepalanya sambil menghela napas.

“Hmm… yah, eng…”

Tanpa kusadari, seringai jahat terpampang di wajahku. Tepat sekali… Hayama bukanlah orang yang suka membuat gara-gara di sembarang tempat. Dan saat ini, di sembarang tempat itu ada dirinya, Zaimokuza, dan diriku. Disudutkan oleh suara mayoritas, Hayama tak punya pilihan selain merelakan tempat ini.

“Ayo, dong, Hayato~~”

Suara memelas terdengar dari sebelah kami.

“Sedang apa sih di sana? Aku mau main tenis, nih.”

Dan anak bodoh berambut ikal itu pun datang. Apa ada yang salah dengan sel otaknya? Sial, harusnya ia menghargai orang bicara… jelas ia tipe orang yang sulit membedakan antara pedal gas dengan rem, ya’ kan?

Tentu saja, Miura sudah menginjak pedal gas ketimbang rem.

Karena komentarnya tadi, Hayama jadi punya sedikit waktu untuk berpikir. Sedikit jeda barusan sudah cukup untuk menghidupkan mesin di otaknya.

“Hmm… baiklah, begini saja. Semua yang bukan anggota Klub Tenis akan bertanding. Dan yang menang, mulai dari sekarang boleh memakai lapangan ini selama istirahat makan siang. Tentu saja, yang menang akan membantu Totsuka berlatih. Pasti lebih bagus kalau ia berlatih dengan pemain yang lebih baik, ya ‘kan? Jadi semua bisa sama-sama senang.”

…ada apa dengan logika sempurna barusan? Apa ia seorang genius?

“Bertanding? …wah, kedengarannya seru.”

Miura tersenyum kejam layaknya Sang Ratu Api.

Dan semua pengikut mereka tampak begitu bersemangat oleh saran Hayama tadi.

Lalu, tersapu oleh panasnya pertarungan yang akan terjadi, di bawah hiruk-pikuk dan kekisruhan, kami pun melaju ke fase tiga dari pelatihan tenis ini.

Mungkin kalimat barusan terdengar agak terlalu keren. Intinya, kami mempertaruhkan lapangan tenis lewat sebuah pertandingan.

Kenapa malah jadi begini…?— II —

Aku sudah berusaha melucu dengan memakai kata-kata seperti hiruk-pikuk dan kekisruhan, namun kata-kata itu justru menjadi kenyataan.

Kini, ada beberapa orang sedang bersorak di sekitar lapangan tenis yang berletak di pojok halaman sekolah.

Andai dihitung, mungkin mudahnya ada sekitar dua ratus orang di sini. Tentu saja sebagiannya adalah kelompok Hayama, tapi ada lebih banyak orang yang mungkin mendengar hal ini dari suatu tempat dan penasaran ingin mencari tahu.

Sebagian besar penonton di sini adalah teman Hayama maupun penggemarnya. Sebagian besarnya adalah anak kelas dua, namun ada juga anak kelas satu yang berbaur, dan aku pun bisa melihat ada anak kelas tiga di sana-sini.

Yang benar saja? Ia bahkan lebih populer dibanding politisi.

“HA~ YA~ TO~ GO!! HA~ YA~ TO~ GO!!”

Para penonton bersorak untuk Hayama, dan mereka mulai membuat gelombang sorakan. Rasanya seperti sedang di tengah konser idola saja. Meski kurasa sebagian orang di sini bukanlah penggemar Hayama, tapi mereka kemari karena merasa ada sesuatu yang aneh sedang berlangsung… iya, ‘kan? Aku justru lebih meyakini hal itu.

Intinya, bulu kudukku langsung merinding sewaktu melihat ke arah kerumunan. Rasanya seperti sebuah sekte keagamaan. Jemaat masa remaja memang menyeramkan.

Dan di tengah wadah kekisruhan yang meleleh itu, Hayato Hayama dengan percaya diri maju ke tengah lapangan. Terlepas dari riuhnya penonton, ia tampak begitu tenang. Mungkin ia sudah terbiasa dengan perhatian sebanyak ini. Kini tak hanya pengikutnya saja yang mengerumuninya, namun juga beberapa anak lelaki dan perempuan dari kelas lain.

Kami sudah benar-benar tertelan seutuhnya. Kami pun bolak-balik saling beradu tatap. Kupejamkan mataku, dan kurasakan diriku pening karena hiruk-pikuk yang memekakkan telinga itu.

Hayama sudah menggenggam raketnya dan berdiri di sisi lapangan. Ia memandang kami dengan penuh ketertarikan, penasaran soal siapa di antara kami yang akan maju duluan.

“Hei, Hikki. Bagaimana, nih?”

“Bagaimana, ya…”

Yuigahama tampak gelisah saat bertanya padaku tadi. Aku lalu memandang ke arah Totsuka, dan ia sudah terlihat seperti kelinci ketakutan yang baru saja dilepas di hutan yang asing.

Bahkan sewaktu berbicara padaku, ia tampak begitu malu-malu sambil merapatkan kedua kakinya. Ya ampun, gemas sekali melihatnya.

Bukan aku saja yang berpikir demikian. Saat Totsuka berjalan dengan lemahnya tadi, kudengar para perempuan di sekitar kami sudah menjeritkan, “Pangeran~~!!” ataupun “Sai~~!!”

Namun setiap kali Totsuka mendengar itu, bahunya langsung terturun. Dan karena melihat hal itulah, para penggemar Totsuka semakin menggeliat kesenangan. Aku pun jadi sedikit ikut terbawa mereka.

“Sepertinya Totsuka tak bisa ikut bertanding…”

Hayama bilang kalau ini adalah pertandingan antara orang-orang dari luar Klub Tenis. Dengan kata lain, ini adalah pertandingan untuk memenangkan lapangan dan Totsuka itu sendiri.

“…Zaimokuza, kau bisa main tenis?”

“Serahkan saja padaku. Aku sudah selesai membaca seluruh jilidnya, bahkan aku sudah menonton drama musikalnya. Jadi aku cukup superior bila berurusan dengan tenisu.”

“Aku yang bodoh sudah bertanya padamu. Lagi pula, kalau mengucapkan tenis dengan cara begitu, harusnya kau juga konsisten sewaktu mengucapkan drama musikal tadi.”

“Yah, kalau begitu, berarti memang terserah padamu… terus bagaimana pengucapan drama musikal-nya?”

“Benar juga, kurasa memang harus aku…”

“Menurutmu kau punya kesempatan menang? …serius deh, bagaimana dengan pengucapan drama musikal-nya?!”

“Sama sekali tak ada… sudahlah, jangan cerewet. Kalau memang tidak bisa, tinggal ubah saja karakter sialanmu itu. Parah sekali kelihatannya.”

“Be-begitu… Hachiman, memang pintar, ya?”

Zaimokuza tampak terkesan. Rupanya masalah tentang dirinya tadi sudah bisa diatasi. Tapi tak satu pun dari masalahku sendiri sudah teratasi. Ah… bagaimana ini?

Kubenamkan kepalaku dalam kedua tangan yang sedang menyilang. Saat melakukannya, kudengar sebuah suara kasar nan menjengkelkan.

“Hei, bisa cepat enggak, sih?”

Ya Tuhan. Perempuan bispak ini benar-benar menjengkelkan. Kutengadahkan kepalaku dan melihat Miura sudah menggenggam raket sambil memeriksanya. Hayama pun tampak merasa aneh saat melihat kelakuan perempuan itu.

“Eh? Yumiko mau main juga?”

“Hah? Ya, iyalah. Dari awal, yang mau main tenis itu sebenarnya aku. Masa lupa, sih?”

“Aku tahu, tapi… tim di sebelah sana mungkin diwakili anak lelaki. Kau kenal, eng… Hikitani, ‘kan? Anak itu. Kalau kau bermain dengannya, bakal enggak adil nanti.”

Siapa itu Hikitani? Yang bermain itu bukan Hikitani, tapi Hikigaya… mungkin.

Setelah diingatkan oleh Hayama, Miura lalu termenung sambil memain-mainkan rambut ikalnya.

“Ah, kalau begitu, main ganda campuran saja! Wah, aku ini pintar juga, ya? Tapi… memangnya ada perempuan yang mau main sama Hikitani? Haha, konyol banget!”

Miura mulai mengeluarkan tawa vulgar bernada tinggi, lalu diikuti oleh tawa para penonton. Mau tak mau aku juga ikut menertawakan diriku sendiri.

Ku ku ku, ku ku ku… uh, kuakui rasanya perih sekali, tapi yang tadi itu memang tepat sasaran. Bisa kurasakan diriku terjun bebas ke dalam kegelapan.

“Hachiman, ini gawat. Kau sama sekali tidak punya teman perempuan. Dan tak ada anak perempuan yang mau membantu bajingan penyendiri berwajah datar sepertimu sekalipun kau memohon. Jadi bagaimana ini?”

Zaimokuza ini tak mau diam. Tapi yang dikatakannya memang benar, makanya aku tak bisa menyangkalnya.

Kita sudah melewati sebuah masa di mana aku bisa tinggal pergi sambil berkata, Ahahaha, maaf~~ sudah, kita lupakan saja soal ini. (kedip <3). Awalnya aku ingin meminta bantuan Zaimokuza, tapi ia hanya menoleh ke sana kemari dan mulai bersiul.

Kuhela napasku, dan seolah tertular, Yuigahama dan Totsuka juga ikut menghela napas.

“…”

“Hikigaya, maaf. Kalau saja aku anak perempuan, aku pasti akan senang bermain denganmu, tapi…”

Benar sekali. Kenapa Totsuka bukan anak perempuan? Padahal ia begitu manis…

“…tenang saja.”

Tak boleh kubiarkan kecemasan ini tampak di wajahku, karena itu lalu kubelai kepala Totsuka.

“Dan juga… kau tak perlu mencemaskan ini. Kalau kau punya tempat untuk bernaung, maka kau harus melindungi tempat tersebut.”

Saat aku mengatakannya, bahu Yuigahama jadi gemetar. Ia gigit bibirnya dan melihatku dengan tatapan menyesal.

Yuigahama punya kedudukan sendiri di kelasnya. Tak sepertiku, ia benar-benar hebat jika berurusan dengan pergaulan antarsesama. Itu sebabnya ia masih ingin bisa berakrab ria dengan Miura serta anak lainnya.

Aku adalah penyendiri, tapi bukan berarti aku iri dengan orang-orang yang akrab dengan sesamanya. Bukan berarti pula aku mengharapkan hal buruk terjadi pada mereka… sungguh bukan itu. Aku tidak bohong.

Bukan berarti kami ini sekumpulan teman atau semacamnya, dan aku juga takkan menganggap mereka sebagai teman. Kami hanyalah bentuk kekacauan dari sekelompok acak orang-orang yang berkumpul bersama, atau mungkin kami berkumpul di sini karena alasan yang acak pula.

Yang mau kulakukan hanyalah ingin membuktikan sesuatu. Bahwa para penyendiri ada bukan untuk dikasihani, mereka sama bergunanya seperti yang lain.

Aku sadar betul kalau itu adalah pemikiran yang egosentris. Tapi aku memang orang yang egosentris jika sedang sendirian. Bahkan aku bisa berteleportasi dan menghembuskan api saat sedang sendirian.

Namun aku tak mau menolak masa laluku sendiri ataupun masa yang sedang kujalani ini. Aku takkan pernah percaya bahwa menghabiskan waktu seorang diri adalah sebuah dosa atau hal yang dianggap salah.

Karena itu aku akan berjuang melindungi rasa keadilanku sendiri.

Aku pun mulai maju ke lapangan sendirian.

“…mau.”

Kudengar desahan lembut, amat sangat lembut hingga lenyap oleh riuhnya sorakan.

“Hah?”

“Kubilang, aku mau!”

Yuigahama sedikit mengerang sewaktu wajahnya mulai memerah.

“Yuigahama? Bodoh. Kau ini bodoh, ya? Jangan main-main.”

“Kenapa aku dibilang bodoh?!”

“Kenapa kau mau melakukannya? Kau ini bodoh, ya? Atau jangan-jangan kau suka padaku?”

“E… eh? Ka-kau ini bicara apa? Bodoh! Dasar Bodoooooh!!”

Wajah Yuigahama memerah selagi mengataiku bodoh berulang kali disertai kemarahan yang luar biasa. Ia lalu merebut raket dari tanganku dan mulai mengayunkannya ke sana kemari.

“Ma-ma-ma-maaf! Maaf!”

Aku langsung meminta maaf sambil menghindari ayunan raketnya. Mengerikan sekali saat mendengar suara ayunan raket yang begitu dekat dengan telingaku. Tapi sewaktu aku meminta maaf, kuperlihatkan rasa penasaran ini lewat ekspresiku. Yuigahama pun mengalihkan wajahnya dengan malu-malu.

“…yah, bagaimana bilangnya, ya? Aku juga anggota Klub Layanan Sosial… jadi bukan hal aneh bagiku berbuat seperti ini… soalnya, itu tempatku bernaung.”

“Tunggu, tenang dulu. Perhatikan dulu sekitarmu. Ini bukanlah satu-satunya tempatmu bernanung, ‘kan? Coba lihat, para perempuan dalam grup langgananmu sedang menatap ke arahmu.”

“Eh, serius?”

Yuigahama menegang dan menoleh ke arah grup Hayama. Hampir bisa kudengar suara lehernya yang berderak sewaktu menolehkan kepala. Aku sempat mau menyarankannya agar memakai pelumas Kure 556 atau semacamnya.

Grup perempuan di sekitar Hayama, dengan Miura sebagai pemimpinnya, sedang memandang kami. Sudah sewajarnya mereka berbuat demikian, mengingat apa yang sudah Yuigahama lantangkan tadi.

Terasa aura permusuhan pada mata besar Miura yang sudah ditebali oleh maskara dan eyeliner. Gulungan rambut pirangnya yang mirip bor itu berayun tak senang. Memangnya ia itu Nyonya Kupu-Kupu apa?

“Yui, asal kau tahu, kalau kau memihak sana berarti kau melawan kami. Kau paham, ‘kan?”

Layaknya seorang ratu, Miura menyilangkan lengan dan menghentakkan kakinya ke tanah. Itu adalah pose seorang ratu yang sedang marah. Merasa tertekan oleh pose tersebut, perlahan Yuigahama menundukkan pandangannya ke bawah. Ia lalu menggenggam keliman roknya. Mungkin ia merasa gugup — tangannya sudah gemetaran.

Sorakan pernonton mulai berubah menjadi riuh rendahnya suara bisikan. Padahal ini bukan sebuah eksekusi di depan umum.

Namun Yuigahama mengangkat kepalanya dan dengan tegas menatap ke depan.

“…bukan begitu… mauku. Tapi, klub… klub ini penting buatku! Jadi aku akan melakukannya.”

“Hmm… begitu. Jangan sampai kau malu sendiri, ya.”

Tanggap Miura singkat. Namun aku melihat sebuah senyum tersungging di wajahnya. Itu adalah senyuman api neraka yang berkobar.

“Ayo ganti baju dulu. Biar kupinjamkan baju dari Klub Tenis Putri. Ayo ikut.”

Miura menolehkan kepalanya ke arah ruang Klub Tenis yang berada di dekat lapangan. Mungkin ia mencoba bersikap baik, tapi yang terdengar bagiku, ia seperti berkata, Akan kucekik kau di ruang klub nanti. Yuigahama pun mengikutinya dengan wajah tegang, dan semua anak di sekelilingnya memandang dirinya dengan tatapan iba.

Yah… senang bisa kenal dengan dirinya…

“Hei, Hikitani.”

Sewaktu aku mendoakan Yuigahama, Hayama mengajakku bicara. Ia pasti punya keahlian komunikasi yang cukup hebat hingga bisa bicara denganku. Meskipun ia salah mengucapkan namaku.

“Ya?”

“Aku masih belum begitu tahu peraturan tenis. Bermain ganda sepertinya juga cukup sulit. Jadi, apa kau keberatan kalau kita membuat beberapa peraturan sederhana?”

“Boleh. lagi pula ini juga tenis untuk pemula. Kita pukul saja bolanya dan tetap hitung angkanya. Bagaimana? Ini mirip seperti bola voli.”

“Ah, itu lebih mudah dipahami. Aku setuju.”

Hayama tesenyum senang. Kubalas dirinya dengan tersenyum masam.

Di saat bersamaan, dua perempuan tadi akhirnya kembali.

YahariOreNo-263.png

Wajah Yuigahama sudah memerah selagi ia susah payah membetulkan roknya. Satu setelan dengan roknya, ia mengenakan kaos polo untuk bagian atasnya.

“Rasanya seragam tenis ini agak… bukannya rok ini terlalu pendek, ya?”

“Tapi rok yang kaupakai selalu sependek itu, kok…”

“Hah?! Apa maksudmu?! Ja-jangan bilang kalau kau selalu memerhatikanku! Menjijikkan! Jijik banget! Benar-benar menjijikkan!”

Yuigahama menatapku tajam dan mulai mengangkat raketnya di atas kepala.

“Tenang saja! Aku tak memerhatikannya! Aku sama sekali tak memerhatikanmu! Jangan khawatir! Dan jangan pukuli aku!”

“Entah kenapa… rasanya itu tetap membuatku kesal…”

Gumam Yuigahama sembari perlahan menurunkan raketnya.

Melihat kesempatan untuk membuka diskusi, Zaimokuza menyela sambil berdeham.

“Ehem… Hachiman. Bagaimana strateginya?”

“Strategi terbaiknya adalah mengincar perempuan itu, ‘kan?”

Soalnya perempuan sebodoh itu akan bisa langsung dihancurkan, bukan? Jadi sudah pasti perempuan itu adalah celah dari pertahanan mereka. Akan lebih efisien jika menyerang ke arahnya daripada berhadapan satu lawan satu dengan Hayama. Namun sewaktu mendengar rencana tersebut, Yuigahama langsung mengajukan keberatan sambil bersuara panik.

“Eh? Hikki, kau enggak tahu, ya? Yumiko sudah bermain tenis sejak SMP. Ia terpilih masuk ke dalam tim yang mewakili prefektur, tahu?”

Sewaktu mendengarnya, aku langsung melirik ke arah Nyonya Kupu-Kupu (alias Yumiko). Postur tubuhnya cukup proporsional, dan pergerakan tubuhnya tampak begitu luwes. Mengetahui itu, Zaimokuza bicara sambil terbata-bata.

“Hm… jadi si gulungan vertikal itu tidak main-main.”

“Sebenarnya, gaya rambut itu sebutannya pintalan longgar…”— II —

Pertandingan pun dimulai, dan emosi-emosi saling bergesekan seiring poin yang masuk dalam pasang surutnya serangan maupun pertahanan.

Saat pertandingan baru dimulai, sorakan penonton begitu bergemuruh dan dipenuhi teriakan histeris. Namun sejalan dengan berlangsungnya pertandingan, mata mereka mengikuti ke mana arah pergerakan bola sambil menahan napasnya. Kemudian mereka menghela napas dan bersorak gembira saat poin tercipta. Ini benar-benar mirip seperti pertandingan profesional yang disiarkan di TV.

Di setiap reli panjang yang saling berganti, dengan poin yang saling berbalas, bisa kurasakan kegelisahan yang semakin mengikis syarafku.

Pada akhirnya, keseimbangan tadi dihancurkan oleh servis si gulungan vertikal itu.

  • Ping!* Kudengar suara pukulan raketnya. Segera setelahnya, bola melesat turun ke lapangan layaknya sebuah peluru dan semakin membesar di penglihatanku.

Apa-apaan yang barusan itu…? Entah cuma aku, atau memang bolanya juga melesat seperti gulungan vertikal?

Intinya, Nyonya Kupu-Kupu itu ternyata benar-benar pemain kelas atas.

“Ternyata ia memang jago…”

Gumamku tanpa sadar.

“Apa kubilang.”

Jawab Yuigahama dengan begitu bangga. Bukankah ia harusnya ada di pihakku?

“Kau sendiri belum memukul satu bola pun sampai sekarang…”

“Ah, eng, sebenarnya… aku jarang main tenis.”

Yuigahama terkikih gugup di depanku.

“…kau… kau jarang main tenis tapi memaksakan diri ikut bermain?”

“Eng… i-iya, aku salah!”

Justru sebaliknya… perempuan ini terlalu baik. Ia jarang bermain tenis, dan ia masih memaksakan diri bermain di depan orang banyak demi membela Totsuka… tak semua orang bisa berbuat begitu. Dan itu bisa jadi lebih keren lagi andai ia memang jago bermain tenis. Tapi hidup tak selalu sesuai dengan keinginan kita.

Aku masih bisa melawan dengan servis terarah dan pengembalian bola terukur yang kuasah lewat latihan memukul bola ke tembok. Namun saat mendekati paruh kedua, perbedaan skor kami kian melebar.

Itu karena lawan kami hampir selalu terfokus pada Yuigahama.

Mereka mungkin terkejut karena aku bisa menangani dan mengubah arah sasaran mereka… atau bisa jadi mereka yang tak menghiraukan keberadaanku.

“Yuigahama, kau jaga bagian depan. Biar aku yang urus bagian belakang.”

“Oke.”

Setelah menetapkan strategi dasar, kami pun bersiap di posisi yang sudah direncanakan.

Servis Hayama yang keras dan cepat mengarah ke kami. Bolanya melesat ke pojok jauh lapangan dengan akurasi terukur dan melayang melewati kami. Aku melompat ke samping sambil bersusah payah menggapainya. Kujulurkan raketku sejauh mungkin supaya bisa mengenai bolanya. Lalu dengan sekuat tenaga kukembalikan bola itu.

Pengembalianku mendarat di sisi lawan, namun Nyonya Kupu-Kupu seolah sudah bersiap. Ia lalu melesatkan bola ke arah berlawanan. Aku bahkan tak menunggu untuk melihat arah datangnya bola. Aku hanya bergegas maju ke sisi tersebut, yang kukira bolanya akan mengarah ke sana.

Kakiku yang sulit kukendalikan ini masih mau menuruti kehendakku. Kuhadapi bola itu, dan saat memantul kembali, kupukul keras ke arah pojok lapangan.

Akan tetapi, Hayama sepertinya sudah mengetahui rencanaku — ia menunggu pukulanku. Ia mengubah keadaan dengan sebuah drop shot yang mengarah di antara Yuigahama dan aku.

Aku kehilangan keseimbangan hingga tak mungkin meraih bola itu. Aku memandang Yuigahama dengan tatapan memohon, dan ia berlari ke arah bola lalu mengembalikannya… namun ia terlalu kuat memukul bolanya, sehingga bola itu pun melayang tinggi ke angkasa, dan jatuh tepat di posisi Nyonya Kupu-Kupu berdiri.

Bola itu pun dismes keras dengan sekuat tenaga ke arah kami. Nyonya Kupu-Kupu tersenyum sadis saat bola tersebut menyerempet pipi Yuigahama dan melaju ke arah pojok kosong lapangan.

“Kau tak apa-apa?”

Tanpa mengambil bola aku langsung berseru pada Yuigahama yang sudah jatuh terduduk di belakang.

“…yang tadi itu mengerikan sekali…”

Saat mendengar gumaman Yuigahama yang matanya sudah berkaca-kaca itu, Nyonya Kupu-Kupu sesaat terlihat cemas.

“Yumiko, kau memang kejam.”

“Ha…?! Bukan, bukan begitu! Yang tadi itu wajar-wajar saja, kok! Enggak mungkin aku sekejam itu!”

“Ah, berarti kau memang manusia sadis.”

Gurau Hayama dan Nyonya Kupu-Kupu sambil kemudian tersenyum. Para penonton pun tampak terpengaruh oleh mereka dan ikut tersenyum.

“…Hikki, ayo menangkan pertandingan ini.”

Yuigahama lalu berdiri dan mengambil raketnya. “A-aduh!” Kudengar ia sedikit mengaduh.

“Hei, yakin kau tak apa-apa?”

“Maaf… kurasa kakiku terkilir.”

Yuigahama tersenyum malu-malu padaku. Matanya pun sudah dipenuhi air mata.

“Kalau kita kalah, nanti bisa jadi masalah buat Sai… ah, gawat, kalau begini bisa gawat… kalau sampai gagal, minta maaf saja enggak bakal cukup… uh!”

Yuigama lalu menggigit bibirnya karena frustasi.

“Baiklah, kita pikirkan jalan keluarnya. Jika terpaksa, kita bisa mendandani Zaimokuza dengan pakaian perempuan.”

“Jelas langsung ketahuan, dong!”

“Benar juga… begini saja… kau istirahat dulu di luar. Biar sisanya aku yang urus.”

“…terus?”

“Sejak zaman dahulu kala, ada sebuah teknik terlarang dalam olahraga tenis. Teknik itu bernama, Raketku jadi roket!”

“Itu jelas pelanggaran!”

“…ya sudah, jika situasinya memang jadi buruk, aku akan bersikap serius. Kalau sudah serius, aku bisa menjadi ahli dalam bersujud dan menjilat kaki lawanku.”

“Itu memang serius tapi dalam cara yang salah…”

Yuigahama tampak terkejut dan berdesah lalu tersenyum. Matanya sudah sembab karena air mata. Mungkin karena kakinya yang terkilir atau mungkin karena ia tertawa hingga tanpa sadar menangis. Dengan matanya yang sudah memerah, ia mengalihkan pandangannya ke arahku.

“Ah, Hikki memang bodoh… kepribadianmu buruk, bahkan saat terdesak pun tetap sama buruknya. Biar begitu, kau enggak mau menyerah… kau tetap maju seperti orang bodoh dan menantang lawanmu dengan cara menjijikkan dan menyedihkan… aku akan mengingatnya.”

“Kau ini bicara ap—”

“Kurasa aku sudah enggak sanggup lagi…”

Sela Yuigahama dengan nada kesal.

Ia lalu berbalik membelakangiku dan beranjak pergi. “Permisi, permisi!” Serunya sewaktu membelah kerumunan penonton yang sedang kebingungan.

“…perempuan itu bicara apa, sih…?”

Ditinggalkan sendiri di tengah lapangan, kupandangi Yuigahama yang keluar seiring sosoknya yang mulai menghilang. Lalu kudengar suara tawa menjengkelkan yang bergema di lapangan.

“Ada apa, nih? Bertengkar sama temanmu, ya? Terus ditinggalkan, ya?”

“Konyol sekali… selama ini aku tak pernah bertengkar dengan siapa pun. Dan aku tak punya kedekatan dengan siapa pun sampai bisa bertengkar dengan mereka.”

“Eh…”

Hayama dan Nyonya Kupu-Kupu tersentak karena ucapanku.

Hmm…? Harusnya mereka tertawa tadi…

Oh, aku paham. Humor merendahkan diri barusan hanya berlaku pada orang yang sudah dekat dengan kita saja…

Hanya Zaimokuza satu-satunya yang berusaha menahan tawa. Aku berdecak dan membalikkan badan hanya untuk melihat dirinya yang berlagak cuek dengan berpura-pura sedang bicara pada seseorang di tengah kerumunan penonton.

…bajingan itu mau melarikan diri, ya…? Pada situasi begini, aku sekalipun pasti akan berlagak cuek dan melarikan diri. Totsuka pun sampai memandangku dengan tatapan memelas.

Uh, baiklah… ini saatnya untuk memohon ampun. Akan kutunjukkan kalau aku bisa serius.

Untuk bisa mengambil hati orang lain, kita memang harus membuang harga diri dan sebisa mungkin menjilat mereka… aku bangga bisa melakukannya.

Mungkin cuma aku satu-satunya yang merasakan sebuah dorongan besar untuk mengeluarkan diriku dari suasana tegang ini… kemudian kudengar penonton mulai ramai bergumam.

Dan tembok manusia itu pun perlahan terbelah dua.

“Ada apa sampai jadi ramai begini?”

Rupanya itu Yukinoshita — ia mengenakan seragam olahraga satu setel dengan roknya, dan itu terlihat kurang mengenakkan. Ia datang dengan membawa kotak P3K di tangannya.

“Ah, kau ini ke mana saja…? Terus kenapa bajumu begitu?”

“Aku juga kurang tahu… Yuigahama mendatangiku dan memintaku memakai ini.”

Ujar Yukinoshita sambil berbalik, kemudian Yuigahama muncul di sampingnya. Tampaknya mereka saling bertukar pakaian, dan Yuigahama sedang mengenakan seragam Yukinoshita. Mereka ganti baju di mana? Masa di luar?! Hmm…

“Rasanya kesal kalau kita kalah padahal sudah sampai sejauh ini, makanya Yukinon akan bermain untuk kita.”

“Kenapa harus aku…?”

“Yah, soalnya Yukinon itu teman yang paling bisa diandalkan di dunia!”

Yuikinoshita sedikit tersentak saat mendengar tanggapan Yuigahama tadi.

“Te… teman?”

“Yak, teman.”

Sanggah Yuigahama tanpa pikir panjang. Tunggu dulu, rasanya yang tadi itu agak…

“Apa kau meminta tolong temanmu untuk melakukan hal seperti ini? Rasanya kau hanya memanfaatkannya saja…”

“Eh? Untuk yang begini, aku hanya bisa meminta tolong temanku saja. Kenapa juga kita harus memohon pada orang yang enggak peduli untuk melakukan hal-hal penting buat kita?”

Jawabnya seolah itu adalah hal paling wajar untuk diucapkan.

Oh, begitu rupanya…

Di masa lalu, aku sering terpedaya untuk menggantikan tugas piket anak lain karena mereka berkata, Kita ini teman, ‘kan? Itu sebabnya aku belum terbiasa dengan pemandangan yang diperlihatkan Yuigahama ini. Begitu rupanya. Berarti aku memang berteman dengan anak-anak itu… barangkali.

Tak menutup kemungkinan Yukinoshita memikirkan hal yang sama denganku. Ia menempelkan jari di bibirnya seakan sedang memikirkan sesuatu.

Kecurigaannya terlalu berlebihan; aku pun bukan tipe yang gampang percaya orang lain.

Tapi Yuigahama ini beda cerita. Intinya, anak ini terlalu polos.

“Hei, mungkin ia hanya bersikap jujur. Lagi pula, anak ini terlalu polos.”

Saat aku berkata begitu, sikap tegas Yukinoshita langsung melunak. Ia menyunggingkan senyum penuh makna pada kami dan mengibaskan rambutnya dengan sebelah tangan seperti yang biasanya ia lakukan.

“Tolong jangan anggap remeh diriku… mungkin kelihatannya saja begini, tapi aku cukup jeli dalam menanggapi orang lain. Dan mustahil seseorang yang bisa bersikap baik padaku maupun pada Hikigaya adalah orang yang jahat.”

“Logika yang cukup mengesalkan…”

“Tapi memang itu kenyataannya.”

Sudah pasti begitu.

“Aku tak keberatan diminta bermain tenis, tapi… bisa aku minta waktu sebentar?”

Tanya Yukinoshita, lalu ia berjalan mendekati Totsuka.

“Setidaknya kau bisa merawat lukamu dulu, ya ‘kan?”

Totsuka tampak sedikit kebingungan sewaktu menerima kotak P3K yang disodorkan padanya.

“Eh, ah, iya…”

“Yukinon, jadi tadi kau pergi untuk mengambil itu… kau memang baik.”

“Begitukah? Walau ada beberapa anak lelaki diam-diam menjulukiku Ratu Es…”

“Ke-kenapa kau bisa tahu… Argh! Kau membaca Daftar Orang yang Takkan Kumaafkan milikku, ya?!”

Sial. Aku sudah menyebut Yukinoshita dengan kata-kata buruk di buku itu.

“Aku terkejut. Jadi kau benar-benar menjulukiku begitu? … yah, aku juga tak peduli orang berpikir apa.”

Yukinoshita membalikkan badannya ke arahku. Meski begitu, ekspresi dingin yang ia tunjukkan tak terlihat seperti biasanya, melainkan sedikit diwarnai oleh keraguan. Suaranya perlahan beralih dari kepercayaan diri menjadi sesuatu yang lebih rapuh. Ia tiba-tiba memalingkan pandangannya.

“…dan… aku tak keberatan kalau kau menganggapku… temanmu…”

YahariOreNo-273.png

Hampir kudengar suara *pop* sewaktu pipi Yukinoshita mulai tampak merah padam. Ia genggam raket yang diambilnya dari Yuigahama tadi dan sekilas terlihat sedang menundukkan wajah.

Itu terlihat begitu menggemaskan hingga cukup layak untuk diberi pelukan… oleh Yuigahama.

“Yukinon!”

“Hentikan… jangan menempel begitu padaku. Aku jadi tak bisa bergerak…”

…eh? Bukankah ini titik di mana ia harusnya bersikap lembut padaku? Entah hanya aku, atau ia cuma bersikap lembut pada Yuigahama saja? Harusnya tak begitu, bukan? Apa kami sedang di dalam kisah komedi romantis di mana lelaki mendapat cinta lelaki lain dan perempuan mendapat cinta perempuan lainnya?

Semua dewa komedi romantis memang konyol.

Setelah Yukinoshita berhasil melepaskan diri dari Yuigahama, ia berdeham beberapa kali dan lanjut berbicara.

“Sungguh sebuah penyesalan bisa berpasangan dengan lelaki ini, tapi, yah… mau bagaimana lagi? Aku terima permintaanmu. Aku hanya perlu memenangkan pertandingan ini saja, bukan?”

“Sip! …yah, aku juga enggak bisa berbuat banyak agar Hikki bisa menang.”

“Maaf sampai membuatmu melakukan ini.”

Kubungkukkan badan ini, tapi Yukinoshita hanya menatapku dingin.

“…jangan salah sangka. Aku melakukan ini bukan demi dirimu.”

“Ha ha ha, kau memang tsundere.”

Ha ha ha, ya ampun, ha ha ha ha… sudah lama aku tak mendengar hal seklise itu.

“Tsundere…? Entah kenapa, kata-kata itu membuat bulu kudukku merinding.”

Ya, itu memang benar… kurasa sudah jelas kalau Yukinoshita takkan tahu apa itu tsundere… terlebih, perempuan itu takkan berbohong — ia akan selalu berkata sejujurnya, tak peduli betapa kejamnya itu. Jadi kemungkinan ia tak berbohong saat berkata kalau ini bukan demi diriku.

Yah, bukan berarti aku ingin ia agar menyukaiku atau semacam itu, jadi ya, sudahlah.

“Yang penting, nanti perlihatkan padaku daftar yang kausebut tadi. Akan kuperiksa dan kuperbagus untukmu.”

Yukinoshita lalu tersenyum manis kepadaku, mengingatkanku akan sebuah bunga yang mulai mekar. Tapi kenapa senyumnya tak sedikit pun menghangatkan hatiku…?

Aku justru merasa ketakutan. Rasanya seperti sedang ditatap seekor harimau.

Bila memang ada harimau di depanku… hmm… berarti ada serigala di belakangku. Atau mungkin seekor kuda.

“Yukinoshita… ya? Maaf sebelumnya, tapi aku enggak akan menahan diri siapa pun lawannya. Kau merasa seperti tuan putri, ‘kan? Kalau enggak mau terluka, mending pergi dan menyerah saja sana.”

Aku berbalik dan melihat Miura sedang berdiri sembari memelintir gulungan vertikalnya sewaktu melihat ke arah kami sambil tersenyum kejam. Miura bodoh… menantang Yukinoshita sama saja mencari mati…

“Percayalah, aku yang akan menahan diri untukmu. Akan kuhancurkan kebanggaanmu itu sampai berkeping-keping.”

Ujar Yukinoshita sambil tersenyum seolah ia tak mungkin dikalahkan. Setidaknya ia tampak tak terkalahkan di hadapanku.

Ia adalah musuh yang mengerikan, tapi hati akan sangat tenang jika berada di pihaknya… aku sungguh kasihan pada pihak yang menjadikannya musuh.

Baik Hayama maupun Miura sudah mempersiapkan diri mereka. Senyum penuh makna yang disunggingkan Yukinoshita pun tampak indah sekaligus cukup dingin untuk membekukan orang lain.

“Cukup sudah kaulecehkan tema—”

Yukinsohita keceplosan bicara kemudian sedikit tersipu. Mungkin masih terasa memalukan baginya untuk memakai kata itu, makanya ia diam-diam menggelengkan kepalanya sebelum kembali berbicara.

“…cukup sudah kaulecehkan anggota klub kami. Bersiaplah… asal kau tahu, mungkin kelihatannya saja begini, tapi aku adalah tipe pendendam.”

Bukan, bukan mungkin lagi… tapi seratus sepuluh persen ia tipe pendendam.— II —

Begitulah, semua pihak yang berhubungan dengan pertandingan tenis ini pun berkumpul. Pertandingan ini akhirnya melaju ke fase final yang sesungguhnya.

Tim Hayama dan Miura yang pertama kali jalan. Nyonya Kupu-Kupu alias perempuan gulungan vertikal alias Miura yang melakukan servis.

“Oh, iya, Yukinoshita. Entah kau tahu soal ini atau enggak, tapi aku benaran jago dalam tenis.”

Ujar Miura sewaktu berulang kali memantulkan bola tenis ke tanah lalu menangkapnya, hampir seperti sedang mendribel bola basket. Tapi Yukinoshita bergeming; matanya hanya menunggu kelanjutan aksi Miura.

Miura tersenyum. Senyumnya itu sungguh berbeda dengan senyum yang ditunjukkan Yukinoshita sebelumnya… itu adalah senyum seekor hewan buas.

“Jangan salahkan aku kalau bolanya mengenai wajahmu.”

…wuah, menakutkan. Ini pertama kalinya kudengar seseorang membuat prediksi seperti itu.

Saat memikirkannya, kudengar suara *wuuuss* dan sedikit bunyi dari bola yang dipukul.

Bolanya melesat kencang ke sisi kiri Yukinoshita dan menyerempet garis sisi kiri lapangan. Yukinoshita adalah pengguna tangan kanan, jadi pukulan itu ada di luar jangkauannya.

“…gampang.”

Bersamaan dengan kudengarnya bisikan itu, Yukinoshita sudah bersiap untuk mengembalikan bola. Ia memancangkan kaki kirinya ke tanah dan menggunakannya sebagai tumpuan, lalu ia berputar seolah sedang berdansa waltz. Itu adalah backhand sempurna yang dilancarkan oleh raket yang digenggam tangan kanannya.

Raketnya berayun layaknya pedang samurai, dan bola yang dikembalikannya melaju kencang ke arah Miura.

Bolanya jatuh ke sisi Miura, dekat di kakinya, dan ia sedikit terpekik sewaktu bolanya memantul kembali. Pengembalian cepat tadi membuat Miura tersentak.

“Entah kau tahu soal ini atau tidak, tapi aku juga benar-benar jago dalam tenis.”

Yukinoshita menghunuskan raketnya ke arah Miura dan menatap dingin perempuan itu, hampir seakan sedang melihat seekor serangga. Miura termundur ke belakang, menatap balik Yukinoshita dengan rasa takut dan benci. Bibirnya sedikit menekuk dan ia mulai melontarkan umpatan. Sampai bisa membuat Ratu Miura jadi terlihat seperti itu… Yukinoshita memang luar biasa.

“…hebat juga kau bisa mengembalikan bola tadi.”

Yukinoshita tak menunjukkan sedikit pun reaksi terhadap ekspresi menggertak yang ditampakkan wajah Miura, melainkan hanya tertuju tepat pada satu titik.

“Wajah perempuan itu mirip sekali seperti wajah para senior yang dulu pernah mengerjaiku. Mudah untuk mengetahui betapa rendahnya orang tersebut.”

Yukinoshita menyunggingkan senyum kemenangan lalu mulai menyerang.

Bahkan pertahanannya adalah serangan. Ini tak seperti yang biasanya orang lawas katakan, Pertahanan terbaik adalah menyerang — permainan bertahannya begitu agresif. Ia akan menjatuhkan servis tepat ke sisi lapangan lawan sebagai balasannya, dan setiap bola yang menuju ke arahnya akan dikembalikan sepenuh tenaga.

Para penonton pun menjadi kecanduan akan keindahan permainannya.

“Fuahaha! Anak buahku sungguh kuat! Ayo libas mereka semua!”

Zaimokuza terjebak dalam aroma kemenangan dan akhirnya kembali ke pihak kami, dan kini ia benar-benar berada di pusat perhatian. Itu membuatku jengkel… tapi di sisi lain, fakta bahwa Zaimokuza berada di pihak kami adalah tanda kalau keadaan sudah berbalik.

Saat aku dan Yuigahama yang bermain tadi, kami merasa benar-benar sedang bermain di kandang lawan, tapi perlahan kini para penonton berpihak ke sisi Yukinoshita. Soalnya, semua anak lelaki kini tengah memandang Yukinoshita dengan menggebu-gebu.

Yah, memang benar kalau Yukinoshita adalah spesies yang berbeda, dan tak banyak yang tahu seperti apa sifat aslinya. Dan tentu saja ia juga begitu cantik. Ia juga punya aura misterius yang mengelilinginya; kesan yang dipancarkannya bagai sekuntum bunga yang tumbuh di puncak tertinggi sebuah gunung, yang tak mungkin untuk dipetik. Bukan berarti kalau ia terlihat menakutkan, tapi dirinya terasa seperti sesosok makhluk yang tak tersentuh yang tak boleh diajak bicara.

Sudah tentu Yuigahama punya keberanian yang besar hingga bisa sedikit menembus penghalang itu… dan bisa jadi ia juga orang yang sangat bodoh.

Akan tetapi, sikap jujurnya yang kolot dan kebaikannya yang apa adanya itu mampu menggetarkan hati Yukinoshita. Yuigahama satu-satunya manusia yang sanggup meyakinkan Yukinoshita agar bisa datang kemari hari ini, dan Yukinoshita pun bermain dengan segenap kemampuannya demi membalas keberanian Yuigahama itu. Ia mungkin takkan datang andai aku yang memintanya.

Selisih angka kami yang besar perlahan menipis.

Sewaktu menyaksikan Yukinoshita yang berputar ke kiri dan ke kanan di tengah lapangan, aku selalu membayangkan kalau ia tampak seperti seekor peri. Gerak kakinya yang bagai tarian itu merupakan atraksi seorang bintang di atas panggung. Aku hanya pemain figuran di sini, dan setiap kali menerima bola, aku merinding saat semua orang menatapku. Seakan mereka ingin berkata, Jangan kau!

Namun harapan para penonton terkabulkan — kini giliran Yukinoshita yang melakukan servis.

Ia cengekeram bolanya lalu melambungkannya ke udara. Bola itu hampir tampak seperti terisap oleh langit biru sewaktu melayang ke tengah lapangan. Bola tersebut tampak takkan jatuh di dekat posisi Yukinoshita berada.

Semua orang bakal mengira kalau bolanya luput, akan tetapi…

Yukinoshita terbang.

Ia melangkah ke depan dengan kaki kanannya, membuat dorongan dengan kaki kiri, lalu melompat saat kedua kakinya sejajar. Itu merupakan langkah ringan layaknya staccato.

Kemudian ia melayang ke udara dengan anggunnya. Posisi tubuhnya bagai seekor elang yang dengan halusnya meluncur ke angkasa, dan tak ada seorang pun yang tidak terkejut oleh pemandangan tadi. Dirinya begitu gesit dan elok dipandang. Tak ada yang berkedip sewaktu mereka merekam kejadian ini di ingatan mereka.

Suara melengking terpekik melalui udara, kemudian bolanya bergulir jauh di atas tanah. Para penonton, aku, Hayama, Miura… tak seorang pun yang sanggup menggerakkan diri.

“…ser… servis lompat…”

Ucapku, namun aku hampir kehilangan kata-kata. Menyaksikan hal tak masuk akal yang dilakukan Yukinoshita itu membuatku tak bisa menutup mulut yang menganga ini. Kami sempat jauh tertinggal, tapi ia dengan mudah mengejarnya. Bahkan kini kami unggul dua angka, dan jika kami berhasil meraih angka lagi, maka kami akan memenangkan pertandingan ini.

“Kau memang luar biasa. Tetap seperti itu dan kita menangkan ini dengan mudah.”

Aku begitu yakin hingga bisa berkata begitu, namun Yukinoshita tiba-tiba merengut.

“Mauku memang begitu, tapi… rasanya itu mustahil.”

Ingin kutanyakan alasan ia berkata begitu, namun kulihat Hayama sudah bersiap melakukan servis.

…terserahlah… tampaknya kami akan menang begitu Yukinoshita melancarkan pengembalian bola andalannya. Aku takkan lengah, aku yakin kalau kami akan menang sewaktu bersiap menghadapi servis itu.

Hayama juga tampak kehilangan sedikit motivasi untuk bermain; servisnya tak ia lakukan sekuat tenaga seperti sebelumnya. Servisnya memang cukup cepat, tapi itu hanya servis biasa, dan bolanya melaju ke ruang di antara aku Yukinoshita.

“Yukinoshita.”

Kupikir bola itu lebih baik kuserahkan padanya, makanya tadi aku memanggil namanya. Namun ia tidak menanggapiku. Yang kudengar justru suara datar dari pantulan bola yang jatuh di antara kami.

“He-hei!”

“Hikigaya… apa kau tak keberatan jika aku sedikit sesumbar?”

“Hah? Lagi pula, ada apa dengan permainanmu barusan?”

Yukinoshita tak tampak peduli dengan ucapanku, tetapi justru menghela napas panjang dan menjatuhkan diri di tengah lapangan.

“Sejauh yang bisa kuingat, aku selalu bisa melakukan segala hal, karena itu aku tak pernah berlama-lama menanganinya.”

“Terus kenapa mendadak bicara begitu?”

“Bahkan dalam tenis, ada seseorang yang melatihku di olahraga tersebut, namun setelah tiga hari aku bisa melampauinya… tidak, tidak hanya olahraga, bahkan musik juga. Aku bisa menguasainya hanya dalam tiga hari saja.”

“Wah, kau mirip kebalikan dari pengangguran tiga hari. Dan ternyata kau memang cuma mau sesumbar! Jadi maksudnya semua ini apa?”

“Satu-satunya hal yang tak kuyakini adalah ketahanan fisikku.”

Kudengar suara pantulan bola lainnya yang melesat dan berdesing di dekat Yukinoshita.

Sudah sangat terlambat mengatakan hal tersebut di saat seperti ini…

Karena Yukinoshita bisa melakukan segala hal, ia tak pernah terjebak dalam suatu hal, dan ia tak pernah berlama-lama dalam hal apa pun. Itu berarti ketahanan fisiknya adalah titik lemahnya. Pantas saja yang selalu ia lakukan hanyalah menonton kami sedang latihan saat istirahat makan siang… yah, jika diingat kembali, ini memang sudah kelihatan jelas. Jika ingin lebih baik dalam suatu hal, maka caranya adalah dengan berlatih, dan semakin banyak berlatih, semakin kita bisa meningkatkan ketahanan fisik kita.

Namun karena dari awal ia bisa melakukan segala hal dengan begitu baik, makanya ia tak pernah berlatih. Dan itu sebabnya ketahanan fisik yang dimiliki perempuan itu begitu lemah.

“Uh, tapi kau tak harus mengatakannya dengan suara sekeras itu, ‘kan…?”

Aku menoleh ke arah Hayama dan Miura, lalu melihat Ratu Hewan Buas itu sedang tersenyum bengis.

“Oh, tapi kami sudah dengar, lo~~”

Ujar Miura dengan agresif. Terlihat kalau semua kesulitannya baru saja sirna. Tepat di sebelahnya, Hayama juga tertawa kecil.

Ini situasi yang paling buruk… sesaat setelah kami memimpin pertandingan, mendadak perolehan angka menjadi deuce.

Kami memang pemain pemula dalam tenis yang memiliki peraturan aneh ini. Tapi kami paham kalau dalam keadaan deuce, kemenangan bisa diraih kalau bisa memimpin dengan selisih dua angka.

Andalan kami, Yukinoshita, sudah kehabisan seluruh staminanya dan kini hanya terdiam. Tak hanya itu, lawan kami sudah sadar betul akan situasi ini. Buktinya, servisku sudah tak ampuh lagi melawan mereka — mereka dengan mudah mengembalikannya, dan akhirnya jadi seperti itu.

“Ia boleh saja mengganggu jalannya pertandingan tadi, tapi sepertinya semua sudah berakhir, ya ‘kan?”

Aku tak bisa membalas ucapan agresif Miura tadi. Yukinoshita pun masih terdiam… malahan, ia sempat mengangguk. Ia tampak kelelahan. Apa-apaan itu? Memangnya ia itu Hiei, apa?

Miura memandang angkuh ke arah kami dan tertawa dengan senangnya. Sepertinya ia ingin segera mengakhiri ini. Aku merasa seperti sedang ditatap oleh seekor ular… memangnya perempuan ini anaconda, apa?

Hayama merasakan suasana berbahaya ini dan mencoba menyela.

“Su-sudah, sudah, semuanya sudah berusaha keras… enggak usah terlalu serius. Lagi pula pertandingannya menyenangkan, jadi kita anggap seri saja, ya?”

“Ap—? Hei, Hayato, kau itu bicara apa? Ini pertandingan, lo. Kita harus serius dan melakukannya sampai selesai.”

Dengan kata lain, mereka akan memenangkan pertandingan dan secara sah mengambil alih lapangan ini dari Totsuka. Ditambah, ucapan, Melakukannya sampai selesai tadi… mengerikan sekali. Kira-kira apa yang mau ia perbuat kepadaku… aku sama sekali tak suka ini… jangan-jangan itu bakal menyakitkan? Aku tak suka saat semuanya jadi terasa menyakitkan…

Seketika aku berdiri menunggu, kudengar ada seseorang yang berdecak.

“Bisakah kalian tenang dulu?”

Ujar Yukinoshita terdengar tidak senang. Ia lalu lanjut berbicara sebelum Miura sempat menanggapinya.

“Anak ini yang akan mengakhiri pertandingannya. Jadi kalahlah dengan terhormat.”

Semua yang di sini meragukan apa yang baru didengar mereka tadi. Tentu saja termasuk diriku… malahan, akulah yang paling terkejut di sini.

Mendadak semua mata tertuju padaku. Hingga tadi, keberadaanku tidaklah diakui, tidak pula diinginkan. Namun mendadak aku merasa keberadaanku kini begitu menguat.

Aku saling bertatapan dengan Zaimokuza. Untuk apa ia mengacungkan jempol segala?

Aku saling bertatapan dengan Totsuka. Untuk apa ia menatapku dengan penuh harap begitu?

Aku saling bertatapan dengan Yuigahama. Kuharap ia berhenti menyorakiku, sial… malu sekali rasanya.

Aku saling bertatapan dengan Yukinoshi— ah, ia sudah berpaling. Ia malah melemparkan bola padaku.

“Kau tahu sendiri, bukan…? Kadang aku memang melontarkan hinaan maupun cacian, tapi aku tak pernah menggembar-gemborkan kebohongan.”

Angin pun terhenti, mungkin karena itu suaranya begitu jelas terlantang.

Ya, aku tahu itu… yang berbohong di sini hanyalah aku dan mereka saja.— II —

Keheningan yang tak wajar menyelimuti lapangan. Satu-satunya yang bisa terdengar hanyalah suara bola yang memantul di tanah.

Di tengah suasana tegang yang aneh itu, aku memaksa kesadaran yang ada jauh dalam diriku.

Aku bisa… aku bisa… aku meyakinkan diriku — tidak, aku sudah yakin akan diriku.

Lagi pula, tak ada alasan bagiku untuk kalah di sini.

Aku adalah orang yang sudah bertahan seorang diri dari sia-sia, menyedihkan dan menyakitkannya kehidupan sekolah, yang sudah menjalani pahit dan menderitanya masa remaja ini seorang diri. Jadi tak ada alasan bagiku kalah dari mereka yang menggantungkan diri pada orang banyak di setiap langkahnya.

Istirahat makan siang akan segera berakhir.

Biasanya di waktu seperti ini aku sudah menyantap habis makan siangku di dekat ruang UKS di seberang lapangan.

Ingatan tentang pembicaraanku dengan Yuigahama di tempat itu, obrolan pertamaku dengan Totsuka, semuanya terlintas di benakku.

Kubuka telingaku lebar-lebar.

Tak bisa kudengar suara mengejek Miura; tak bisa kudengar suara sorakan para penonton…

Tapi aku mendengar suara itu… suara yang aku, dan mungkin hanya aku yang bisa mendengarnya sepanjang tahun ini.

Di saat itu, kulancarkan sebuah servis.

Itu adalah servis ringan, mudah dan tak bertenaga yang melambung tinggi ke angkasa.

Kulihat Miura bergegas menuju ke arah bola. Kulihat Hayama dengan sigap mengikutinya. Kulihat para penonton yang tampak merasa kecewa. Sekilas kulirik Totsuka yang pandangannya sudah tertunduk ke tanah. Kuabaikan Zaimokuza yang sedang mengepalkan tangannya. Aku saling bertatapan dengan Yuigahama yang mulai berdoa. Lalu pandanganku pun tertuju pada senyum kemenangan yang disunggingkan Yukinoshita.

Pukulan bolaku melayang ke arah yang tak tentu.

“Hyaaahh!!”

Miura menjerit layaknya seekor ular buas dan akhirnya sampai di posisi bola akan mendarat.

Tepat pada saat itu, angin pun berhembus.

Miura mungkin tidak tahu…

…soal istimewanya angin laut yang berhembus di penghujung istirahat makan siang, yang membuat unik SMA Soubu dan lingkungan sekitarnya.

Bolanya goyah dan tersapu naik ke atas oleh angin. Membuatnya menjauh dari Miura dan memantul di tepi lapangan, tetapi hayama sudah berlari mengejar bolanya.

Hayama mungkin tidak tahu…

…kalau angin ini tak hanya berhembus satu kali saja.

Cuma aku satu-satunya yang tahu soal ini. Aku, yang sepanjang tahun duduk di sana seorang diri, yang tak berbicara dengan siapa pun, yang hanya menghabiskan waktu tanpa ada yang tahu… dan hanya angin itu satu-satunya yang tahu tentang masa-masa tenang yang kuhabiskan seorang diri.

Dan itulah bola melengkung ajaib yang hanya aku, dan memang cuma aku, yang sanggup melakukannya.

Hembusan angin yang kedua menyapu naik bolanya, meskipun bola itu telah memantul.

Setelah itu, bolanya jatuh ke tanah di pojok paling ujung lapangan kemudian menggelinding.

Mulut semua orang pun terbungkam, telinga mereka pun terbuka lebar, dan mata mereka pun terbelalak.

“Ah, kini aku ingat pernah mendengarnya… sebuah keahlian yang membuat penggunanya bisa mengendalikan angin sesukanya, Pewaris Angin, Eulen Sypheed!”

Cuma Zaimokuza satu-satunya anak yang tak mendapat arahan dan malah berteriak keras.

Kuharap ia berhenti menamai secara acak pukulanku barusan. Sial… suasananya malah jadi rusak gara-gara dirinya.

“Eng-enggak mungkin…”

Miura tampak sangat syok. Gumamannya mulai memancing reaksi penonton; mulanya mereka hanya berbisik-bisik, namun perlahan suara mereka berubah menjadi seruan, “Eulen Sylpheed! Eulen Sylpheed!” Ya Tuhan, semoga itu tidak sampai jadi heboh…

“Kami gagal… yang tadi itu memang bola melengkung ajaib.”

Hayama menghadapiku sambil tersenyum. Ia tersenyum layaknya kami sudah berteman lama… sewaktu membalas senyumnya itu, kugenggam erat bola dan berdiri tanpa bisa bergerak.

Aku benar-benar tak tahu harus seperti apa menanggapi situasi seperti ini.

Yang ada, aku malah memulai percakapan sia-sia.

“Hayama. Apa saat kecil kau pernah memainkan bisbol?”

“Iya. Aku sering memainkannya… kenapa?”

Hayama tampak kebingungan akan pertanyaan yang tiba-tiba kusodorkan padanya itu, tapi ia tetap menjawabku tanpa ragu. Mungkin ia memang orang yang baik…

“Perlu berapa banyak orang supaya bisa memainkannya?”

“Eh…? Kalau enggak sampai delapan belas orang, kau enggak bisa bermain bisbol.”

“Ya, sudah kuduga… tapi asal tahu saja, selama ini aku memainkannya seorang diri.”

“Eh? Maksudmu?”

Tanya balik Hayama, tapi kupikir ia takkan mengerti andai kujelaskan.

Maksudku tadi bukanlah permainan bisbol tunggal.

Apa mereka mengerti deritanya mengayuh sepeda sendirian layaknya orang bodoh di tengah teriknya matahari musim panas dan menusuknya hawa musim dingin? Yang biasanya mereka alihkan dengan keluhan, Panas banget! Dingin banget! Gawat, nih! Dan semua itu sudah kulalui seorang diri.

Memangnya mereka tahu… memangnya mereka mengerti betapa menakutkannya saat tak bisa bertanya pada siapa-siapa mengenai bahan ujian yang akan datang, dan akhirnya diam-diam belajar sendirian lalu menerima langsung akibatnya. Mereka bisa sampai seperti ini karena mereka saling memeriksa jawaban masing-masing, saling membandingkan nilai ujian mereka, saling membodoh-bodohi ataupun memuji satu sama lain dan lari dari kenyataan, sementara aku menghadapi kenyataan itu seorang diri.

Apa kira-kira pendapat mereka? Bukankah aku tampak seperti manusia paling tangguh?

Tersapu oleh emosi-emosi itu, aku bersiap melakukan servis.

Kutekuk satu kaki ke depan dan menarik kencang satu sisi tubuhku ke belakang layaknya busur yang siap menembak. Lalu kulambungkan bola ke udara. Kugenggam erat raketku dengan kedua tangan dan memosisikannya di belakang leherku.

Lagit yang biru, musim semi yang hendak berlalu, dan musim panas yang akan menghampiri… aku sudah muak dan mengutuk semua itu.

“Masa Remaja, sialan!!!”

Dengan segenap kekuatan, seiring bola turun mendekatiku, kupukul bola ke udara dengan ayunan ke atas.

Bolanya sampai menimbulkan bunyi *takk!* sewaktu tepat menghantam tepi rangka raketku, yang kemudian melesat naik ke atas seakan langit yang mengisapnya.

Bola itu pun naik semakin tinggi. Pada titik tertentu, bolanya terlihat seperti bintik yang lebih kecil dari sebutir beras.

“I-itu… sang roh kehancuran yang melambung tinggi menembus langit, Meteor Strike!”

Seru Zaimokuza sambil mencondongkan badannya ke depan. Lagi-lagi… kenapa ia harus memberi nama untuk pukulanku?

“Meteor Strike…” Beberapa anak lain di antara para penonton pun mulai membisikkannya. Ya ampun, kenapa mereka juga ikut-ikutan?!

Itu bukan perkara besar… itu hanya sekadar permainan pukul-tangkap.

Biar kujelaskan. Saat masih kecil, aku tidak punya banyak teman, maka dari itu kukembangkan sebuah olahraga baru dari bisbol tunggal — aku melempar, memukul, dan menangkap bolanya sendiri. Saat berusaha merancang skema agar permainan bisa berlangsung lebih lama, aku sadar bahwa cara terbaik untuk memperlama irama permainan adalah dengan skema pukul-tangkap itu sendiri.

Jika bolanya berhasil kutangkap, maka si pemukul dinyatakan out, dan jika bolanya luput tapi bisa ditangkap setelah memantul, maka pukulan itu dianggap masuk. Jika aku memukul bolanya terlalu jauh, maka itu kuhitung sebagai home run. Salah satu kelemahan permainan ini adalah sekali aku memutuskan bermain di pihak mana (entah sebagai pemukul atau penangkap), maka permainan akan cenderung berat sebelah. Untuk memainkan bisbol ini, sangatlah penting untuk bersikap obyektif seolah sedang bermain suten dengan diri sendiri. Yang seperti ini tak patut dicontoh; bermain dengan teman-teman jauh lebih bijaksana.

Namun itulah simbol dari terasingnya diriku, dan itu pula yang menjadi senjata terkuatku.

Itu adalah palu yang jatuh dari kehampaan dan menghancurkan mereka yang mengagungkan masa remaja.

“A-apa itu?”

Miura mendongak ke atas sambil kebingungan. Hayama pun menatap tinggi ke angkasa, namun ekspresinya mendadak berubah panik lalu berteriak.

“Yumiko! Mundur!”

Teriak Hayama pada Miura yang kini terpaku dengan wajah syok. Sudah kuduga, Hayama sadar dengan yang sedang terjadi… sayangnya, ia sudah terlambat.

Bola tenis itu pun terus melaju ke atas, tapi kecepatannya berangsur berkurang akibat pengaruh gravitasi, hingga dua daya itu mencapai titik keseimbangan lalu membuat laju bola terhenti.

Ketika kemudian keseimbangan itu hancur, energi potensial bola berubah menjadi energi kinetik. Bola itu pun mulai terjun bebas. Seketika menghantam tanah, energi dari bola itu hendak meledak.

Setelah melayang begitu lama di angkasa, bola tersebut akhirnya memecut tanah hingga menciptakan kepulan debu, lalu memantul kembali, melambung tinggi ke udara.

Bermaksud ingin memukul balik, Miura mengejar bola itu sambil menerobos kepulan debu dengan langkah tak beraturan. Bolanya terbang tak menentu menuju pagar ram di belakang lapangan.

Gawat… Miura akan menabrak pagar ram tersebut.

“Ugh!”

Hayama membuang raketnya dan berlari mengejar Miura.

Apa ia akan sempat?! Ataukah tidak sempat?!

Sesaat dua anak tersebut menghilang dari pandangan di antara kepulan debu.

Seketika suasana jadi sunyi senyap.

Kudengar suara seseorang menelan ludahnya… nyatanya, mungkin itu diriku sendiri.

Lalu kepulan debu tersebut perlahan menghilang, dan dua anak tadi kembali terlihat.

Punggung Hayama sudah menghantam pagar ram sambil memeluk Miura untuk melindunginya. Wajah Miura tersipu sembari ia mencengkeram lembut baju Hayama.

Sesaat kemudian, suasana meledak dalam sorakan keras dan tepuk tangan yang bergemuruh. Itu adalah apresiasi penuh seluruh penonton.

Hayama membelai kepala Miura untuk menenangkannya, dan wajah Miura pun semakin memerah.

Sambil bersorak, para penonton pun mengelilingi Hayama dan Miura.

“HA~ YA~ TO~ GO!! HA~ YA~ TO~ GO!!”

Dalam suasana gegap gempita itu, bel penanda berakhirnya istirahat makan siang pun berbunyi. Rasanya benar-benar seperti menyaksikan adegan ciuman yang dilanjutkan dengan kredit penutup dalam sebuah film.

Pada akhirnya semua orang sudah diliputi oleh rasa puas dan kelelahan. Mereka seperti habis menonton sebuah film heroik yang menegangkan atau membaca sebuah komedi romantis remaja yang menghibur.

Dan begitulah, para murid menyanjung dua anak itu dengan sorakan, “Hore! Hore!” Lalu sosok mereka menghilang ke dalam gedung sekolah.— II —

Setelah itu, tinggal kami sendiri yang tersisa di sini.

Kita memang menang, tapi rasanya seperti kalah.

Aku hanya bisa meringis setelah mendengar ucapan memelas Yukinoshita.

Jangan konyol. Tak ada yang perlu dipersoalkan antara aku dengan mereka.

Mereka yang bersenang-senang di masa remajanya memang akan selalu dapat peran protagonis.

Hmm… itu benar. Ini semua gara-gara Hikki. Sayang sekali harus jadi begini. Padahal kita yang menang.

Hei, Yuigahama, jaga omonganmu, ya. Apa kau sadar kalau menumpahkan uneg-unegmu itu lebih menyakitkan ketimbang mendengarmu bicara kasar?

Aku memelototi Yuigahama, namun ia tak menggubrisnya.

Yah, Yui memang benar, tak ada yang perlu direnungkan. Sejak awal orang-orang seperti Hayama dan Miura tak pernah berpikir untuk menang. Andaikata mereka kalah pun, itu justru akan jadi sebuah kenangan indah bagi masa remaja mereka.

Apa-apaan itu? Hei, masa remaja, meledak saja sana! Buruan meledak!

Wah, benar-benar deh, anak bernama Hayama itu, andai aku dilahirkan dan dididik dengan cara berbeda seperti sekarang, mungkin aku akan jadi seperti dirinya.

Takkan ada pengaruhnya bagimu… namun kurasa, kau memang harus menata ulang hidupmu.

Tatapan dingin Yukinoshita secara tak langsung mengatakan, Mending mati saja sana.

…tapi, eng, mungkin hal itu akan bagus buat Hikki. Yah… bukan berarti yang sekarang ini enggak bagus.

Yuigahama bergumam seperti menelan kembali kata-katanya, aku pun sama sekali tak bisa mendengar yang diucapkannya. Hei, kalau bicara itu yang keras. Memangnya ia itu pegawai distro, apa!?

Sepertinya Yukinoshita mendengar ucapan Yui seraya tersenyum tipis dan mengangguk.

Rupanya masih ada orang yang bisa mengambil hal positif dari tindakan bodohmu. Sungguh disayangkan.

Ia berpaling setelah berkata begitu. Di depanku kini ada Totsuka yang khawatir dengan kakinya yang cedera, lalu di belakangku ada Zaimokuza yang sudah tampak seperti seorang penguntit.

Bagus, Hachiman, kau memang teman yang bisa kuandalkan. Namun suatu hari, kita harus menentukan pemenangnya lewat sebuah pertarungan…

Tak kuhiraukan Zaimokusa yang menerawang sambil mengoceh tak keruan itu dan mulai beralih pada Totsuka, lalu bertanya padanya,

Apa lukamu baik-baik saja?

Ya…

Aku baru sadar kalau aku sedang dikelilingi laki-laki. Jangan-jangan ini semua gara-gara Zaimokuza yang datang bersamaan dengan perginya Yukinoshita dan Yuigahama.

Hayama diperlakukan layaknya seorang James Bond, dikelilingi para perempuan bak pahlawan, sementara aku, akhirnya hanya dikelilingi oleh para lelaki, sehingga kami pun tampak seperti Pasukan Khsusus A-Team.[1]

Kurasa Dewa Komedi Romantis itu hanyalah mitos.

Hikigaya… eng, terima kasih.

Totsuka berdiri tepat di depanku, memandang ke arahku. Setelah itu, ia berpaling dan terlihat malu-malu. Jujur, aku jadi ingin segera memeluknya, sayangnya ia lelaki…

Kisah komedi romantis seperti ini tak akan jadi kenyataan, dan itu juga berlaku untuk jenis kelamin Totsuka. Lagi pula, rasa terima kasihnya itu salah sasaran.

Aku tak berbuat apa-apa. Kalau mau berterima kasih, berterimakasihlah pada para perempuan itu…

Aku pun mulai pergi mencari mereka, lalu kulihat rambut yang dikuncir dua itu berayun masuk ke arah ruang Klub Tenis.

Oh, ternyata mereka di sana.

Dengan maksud ingin berterima kasih, aku berjalan masuk ke ruang klub.

YahariLoveCom v1-297.png

Yukinoshi… aah.

Mereka sedang berganti pakaian.

Pakaian dalam berwarna hijau jeruk limau terlihat dari balik blusnya. Ia masih mengenakan rok tenis, memperlihatkan jelas tubuh langsingnya yang kurang berisi itu.

WA, WA WA WA WA WA!!

Kenapa ia harus teriak? Berhenti dulu, aku ini sedang konsentrasi, tahu! Apa yang terjadi jika kenangan seperti ini hilang begitu saja? Kusadari ternyata kalau Yuigahama juga ada di sana.

Dan ia pun tampak sedang mau berganti pakaian.

Sepertinya Yuigahama terbiasa mengancing bajunya dari bawah sehingga dadanya kelihatan jelas. Aku bisa melihat bra maupun belahan dadanya. Tampak di tangannya sebuah rok yang tadi sempat ia pinjam dari Yukinoshita, dengan kata lain, ia tak mengenakan rok tersebut saat ini.

Kaus kaki panjang berwarna biru laut yang dipadukan dengan celana dalam merah muda menutupi paha mulusnya hingga ke pergelangan kaki.

MATI SAJA KAU SANA!!!

Daaang…!

Wajahku terhantam raket yang dilempar dengan kekuatan penuh.

…beginilah seharusnya. Kisah komedi romantis itu memang sudah seharusnya begini.

Kerja bagus, Dewa Komedi Romantis. Kerja bagus…

Catatan Penerjemah[sunting]

  1.  Hachiman sedang membandingkan dirinya dan Hayama lewat dua buah film. Yaitu, James Bond yang di mana tokoh utamanya seorang flamboyan yang selalu didampingi wanita-wanita cantik dan The A-Team yang di mana tokoh-tokohnya punya wajah garang dan hanya sedikit menampilkan tokoh wanita di dalam filmnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *